Kucing yang Mana?

Kucing yang Mana?
       Meskipun Nasrudin hanyalah laki-laki miskin, tapi ia sangat menyukai ikan yang pada waktu itu harganya sangat mahal. Untuk bisa membeli ikan, ia menabung sejumlah uang selama 3 bulan. Setelah dirasa cukup, ia pergi ke pasar dan membeli ikan seberat 2 kilogram.
     Ia pun membawa ikan-ikannya ke rumah. Sesampai di rumah, ia berkata kepada istrinya, "Sayangku, baru saja aku membeli 2 kilogram ikan. Saya akan mengundang teman-temanku untuk makan malam di sini. Mereka juga sangat menyukai ikan sebagaimana kita. Mereka telah seringkali mengundang kita makan, sedangkan kita belum pernah mengundang mereka. Jadi, masaklah ikan itu dan saya akan mengundang mereka".
     Pada pukul tujuh malam, Nasrudin kembali ke rumah dengan membawa teman-temannya. Nasrudin mengajak mereka ke meja makan. Namun alangkah terkejutnya Nasrudin, karena di atas meja tidak ada seekor ikan pun.

Mengintip Bahaya Pluralisme Agama

Mengintip Bahaya Pluralisme Agama
Oleh: Luqman Hakim   

     Para penggagas pluralisme agama sebenarnya memiliki “tujuan baik”, yaitu terwujudnya suatu kedamaian global yang berkeadilan di atas bumi. Dengan mengikuti paham ini, diharapkan semua ummat manusia dengan latar belakang agama yang berbeda bisa saling menghormati dan menghargai sehingga dunia akan damai.

       Namun ada satu hal yang harus ditegaskan, bahwa perjalanan teori ini ternyata telah semakin jauh dari tujuan yang dicanangkan. Bahkan kalau ditelaah lebih dalam, paham ini merupakan paham yang berbahaya. Maka tidak mengherankan kalau Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian menfatwakan bahwa paham pluralisme agama merupakan paham yang haram, sesat dan menyesatkan.

      Coba kita telaah pengertian pluralisme terlebih dahulu. Dalam buku “Liberalisasi Pemikiran Islam”, Hamid Fahmi Zarkasyi memaparkan bahwa istilah pluralisme dipahami sebagai doktrin yang berpandangan bahwa tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah sama benarnya (no view is true, or that all view are equally true). Kemudian, definisi dan konsep ini diterapkan pada agama dan menjadilah pluralisme agama.

Hari ini adalah Hari Hijrahku

Hari ini adalah Hari Hijrahku
Sobat...

Ku ingin menyemangati diriku. Ku ingin agar aku termotivasi. Ku ingin agar aku bangkit. Aku tahu, aku telah jatuh. Aku tahu, untuk kesekian kalinya aku terjerembab. Lagi-lagi aku terbenam. Berkali-kali dan berulangkali.

      Namun sekali lagi, aku ingin bangkit. Dan, tidak lagi terjatuh dan terjerembab seperti sekarang ini. Ku takut, setelah jatuh aku ternyata terkapar tak mampu bangkit kembali lantaran nyawa sudah dicabut oleh-Nya. Ya, aku takut.

          Sebenarnya, aku telah berulangkali  berupaya agar aku tidak jatuh lagi. Namun apalah dikata, fakta telah menyatakan aku kembali menorehkan sejarah memalukan dan memilukan.

Sobat.......Ini Tentang Mimpi

Sobat.......Ini Tentang Mimpi
         Alhamdulillah sobat…..Allah masih menganugrahkan nikmat-Nya kepada saya untuk menulis di blog tercinta ini. Kali ini saya mau berbicara tentang mimpi. Mimpi yang dimaksud di sini bukanlah mimpi di saat kita terlelap berada di “dunia lain”. Tapi yang dimaksud adalah cita-cita atapun keinginan yang ingin diraih.
          Di sini saya tergelitik untuk menuliskan sebuah kalimat yang saya rasa bagus untuk kita cermati dan kita jadikan obor pembakar semangat yang ada di dalam dada. Awalnya, kalimat ini seakan pernah saya dengar, tapi ternyata isinya berbeda. Begini isinya: “Gantunglah cita-citamu setinggi langit, walaupun jatuh di atas bintang-bintang”. MasyaAllah… luar biasa kan. Intinya, ketika punya cita-cita, hendaknya kita angkat setinggi-tingginya. Nggak tanggung-tanggung. Toh, kalau tidak tercapai jatuhnya nggak jauh-jauh, masih di atas bintang-bintang. Kita masih bisa menjadi “bintang” walau tak mencapai langit.

Tentang Kalamullah, Taqwallah, dan Allahul Malik

Tentang Kalamullah, Taqwallah, dan Allahul Malik
            Alhamdulillah sobat…akhirnya Allah menganugerahkan kembali kepada saya untuk menulis di blog ini, di bulan penuh mulia ini, bulan Ramadhan 1432 H.

          Kembali saya ingin menuliskan tentang apa-apa yang saya dapatkan dari pengajian kitab “Silsilatu Adab” karangan Abdul Aziz Sayyid Hasyim.

          Kali ini, ustadz Haidar mengupas tentang adab kepada Allah. Di antara topik yang dipaparkan adalah tentang kalamullah (firman Allah), taqwallah (bertaqwa/takut kepada Allah), dan Allaahul Malik (Allah yang Maha Menguasai).

Kalamullah
 
       Baiklah, saya ingin menuliskan tentang kalamullah (firman Allah) terlebih dahulu. Dalam topik ini, ustadz Haidar membacakan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Para Ulama sepakat atas keshahihan hadits yang diriwayatkan oleh 2 ulama hadits terkenal ini).

Pentingnya Khouf, Roja’, Syukur, dan Taubat

Pentingnya Khouf, Roja’, Syukur, dan Taubat
Sobat…..

      Ketika saya menggerakkan jemari ini, menekan tuts-tuts yang ada di keyboard komputer, puasa Ramadhan 1432 H sudah berada di hari yang ke-21. Di sini saya ingin menuliskan apa yang saya dapatkan ketika ikut pengajian tadi di masjid Aqshol Madinah Surabaya.

     Pembicaranya adalah ustadz Haidar dari Malang. Adapun kitab yang dibahas adalah “Silsilatul Adab”, karangan Abdul Aziz Sayyid Hasyim.

         Banyak hal yang ia sampaikan, walau sebenarnya, apa yang ia sampaikan hanyalah mukaddimah dari kitab Silsilatul Adab.

           Hal pertama yang disampaikan adalah tentang khouf (takut) dan roja’(pengharapan). Katanya, kita harus benar menempatkan kapan kita harus menggunakan khouf dan kapan kita memakai roja’. Jangan sampai salah. 

Ayo, hijrah dari Infotainment!

Ayo, hijrah dari Infotainment!
Oleh: Luqman Hakim    

     Program Televisi yang mengungkap kehidupan selebritis, infotainment, meresahkan (sebagian) masyarakat. Acara itu dinilai telah “menjajah” pikiran penonton dengan berbagai hal yang tidak semestinya. Misal, mengungkap pertengkaran, peceraian, serta berbagai sisi kehidupan hedonistik selebritis.

       Tapi, di sisi lain, infotainment telah menjadi acara favorit bagi sebagian (besar) masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga. Dengan realita seperti itu, wajar jika produser televisi berlomba-lomba mengeruk berita seputar selebritis. Dalam “perlombaan” tersebut, para produser tidak lagi memerhatikan dampak dari apa yang mereka tayangka, positif atau negatifkah?

        Bagi banyak produser, layak-tidaknya sebuah produksi bukan terletak pada nilai, tapi lebih pada pencapaian rating. Padahal, untuk menciptakan masyarakat yang beradab, seyogyanya, nilai/normalah yang seharusnya menjadi tolak ukur utama.

Buah Keyakinan Terhadap Pertolongan Allah

Buah Keyakinan Terhadap Pertolongan Allah
            Pagi yang cerah. Mentari memancarkan sinarnya dengan ceria, menyapa penduduk bumi yang mulai bergerak melaksanakan aktivitasnya masing-masing. Burung-burung berkicau dengan merdu, memberikan semangat pada manusia-manusia yang masih malas memulai aktivitas. Tidak mau kalah, ayam jantan pun berkokok dengan suara terbaik, ikut memotivasi orang-orang yang terlena akan indahnya pagi.
   
    Pagi itu, ku berangkat sekolah dengan penuh semangat. Hatiku merasa nyaman dan tenteram, seakan-akan aku berada di padang rumput yang sangat luas. Pikiranku juga terasa segar, seolah baru saja disirami air es. Sungguh karunia yang teramat besar dari Sang Pencipta. Ku yakin, ini pengaruh sholat dhuha dan tahajjud yang aku tunaikan pada pagi itu.
             Dengan berjalan santai, kuayunkan kaki ini setapak demi setapak ke arah sekolah tercinta. Ku melangkah dengan penuh semangat, layaknya seorang mujahid yang sedang melangkah menuju medan pertempuran. Ku melangkah lurus, tatapanku tajam. Sudah tak sabar ku cepat sampai di sekolah. 

Dari Blogger Menjadi Penulis Buku, Bisakah?

Dari Blogger Menjadi Penulis Buku, Bisakah?
Sobat....

      Kalau kita ditanya, lebih banyak mana antara facebooker dan blogger di dunia? Wah, tanpa melihat kamus atau tanya sama mbah google pun kita akan mampu menjawab dengan benar. Ya, jawabannya pasti lebih banyak facebooker (pengguna facebook) daripada blogger (pengguna blog).

       Padahal kalau kita mau sedikit merenung, lebih banyak manfaat blog daripada facebook.
      
     Tahu nggak sobat....ternyata blog tidak hanya menjadi sarana curhat, catatan harian, kumpulan makalah, ungkapan hati, atau apa lah....Blog ternyata juga menjadi sarana untuk membuat buku. 

       Beneran???? Iya!!!!!

Lisan vs Tulisan, Baik Mana?

Lisan vs Tulisan, Baik Mana?
   Kemarin pada tanggal 17 Mei aku menghadiri acara peringatan hari buku di kampus. Pembicaranya adalah salah satu penulis asal Surabaya dan juga pengamat media. Dia adalah ibu Syirikat Syah. Banyak hal yang dia sampaikan berkenaan dengan buku, membaca, dan menulis. Misalnya, dia menyampaikan perbedaan yang jauh antara budaya Jepang dan Indonesia. 1 orang Jepang katanya biasanya membaca 4 koran. Sementara kalau di Indonesia 1 koran bisa dibaca 40 orang. Waw, luar biasa kan perbedaannya. Tapi tunggu dulu, apa benar, di Indonesia 1 koran dibaca oleh 40 orang? Benar nggak ya….Hm…Tapi kayaknya bener deh….Bisa saja kan. Misalnya saja ada Koran yang di tempel di mading. Nah, kan banyak tuh yang baca……hehe…