Menyucikan Allah

Menyucikan Allah
Sobat…..

Ketika ku menulis tulisan ini, tadi pagi ummat Islam di berbagai penjara dunia telah menunaikan sholat i’ed. Itu artinya, hari ini adalah hari raya untuk kaum muslimin. Dan, para jama’ah haji sedang menunaikan ibadah haji di Mekkah sana. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat idul adha 1432 H. Semoga pengorbanan dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amiin…

Sobat…

       Saya ingin melanjutkan terjemahan dari kitab “Silsilatul Adab” yang kali ini merupakan bagian pertama tentang “Kisah-kisah yang berhubungan dengan adab kepada Allah” dengan penulis Abdul Aziz Sayyid hasyim. 

      Kali ini sudah tiba pada sub judul yang ketiga yang berjudul Tanziihullah (Menyucikan Allah). Saya berharap kalau ada terjemahan yang keliru mohon dikoreksi dan bisa diinformasikan kepada saya. Saya sangat senang sekali. 

Imam Nawawi: Pemuda dengan Karya Mendunia

          Malam sudah larut. Banyak orang-orang yang telah terlelap merangkai mimpi. Namun, ada seorang pemuda yang masih terlihat menikmati bacaannya. Ketika rasa kantuk menyerang, ia sandarkan tubuh dan kepalanya pada buku sebentar, lalu terbangun kembali. Tanpa merebahkan punggungnya di tempat tidur, ia lalu meneruskan aktifitas yang menjadi hobinya, yaitu membaca. Begitu seterusnya, hingga ia menunaikan sholat tahajjud. 

         Lalu menjelang sholat subuh, ia meraih roti yang ia simpan dan memakannya sebagai sahur yang sekaligus menjadi makan malam serta makan siangnya. Ia sudah terbiasa berpuasa dan makan sekali dalam sehari semalam. 

           Kemudian pada keesokan harinya, ia semakin “gila” mengejar ilmu. Ia pelajari 12 cabang ilmu pada guru-gurunya. Tak sedikitpun waktunya yang tersia-sia. Bahkan ketika berjalan pun ia terus mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya.

Penampilan itu Penting

             Nasrudin adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah kepada Tuhan, tapi terkadang lupa mencari nafkah. Tentu saja istrinya marah.

       Istrinya berkata, “Baiklah, saya kira kamu sudah beribadah sekian lama. Sekarang kita tidak punya apapun untuk dimakan karena kamu tidak bekerja. Mintalah uang kepada Tuhan”.

        Nasrudin berpikir bahwa apa yang dikatakan istrinya ada benarnya. Kemudian ia pergi menuju pekarangan rumahnya dan berdoa agar Tuhan memberikannya uang. Ia berkata, “Wahai Tuhan, berilah saya 100 koin emas. Saya kira sudah selayaknya saya mendapatkannya karena saya sudah beribadah sekian lama”. Tetangga Nasrudin adalah laki-laki kaya yang pelit. Ia mendengar doa Nasrudin. Ia pergi ke pekarangan rumahnya dan melihat Nasrudin dari sana. Ia tersenyum karena ia berpikir bahwa apa yang dilakukan nasrudin merupakan tindakan tolol. Ia pun ingin mempermainkannya. Ia cepat-cepat pergi menuju rumahnya dan mengambil 100 koin perak. Lalu ia lempar 100 koin perak tersebut ke kepala Nasrudin.

Lalu di mana Allah?

Lalu  di mana  Allah?
Sobat……
          Pernahkah kita sendirian? Duduk merenung tanpa ditemani orang-orang terdekat kita. Tak ada orang yang mengajak ngobrol, dan tak ada orang yang duduk di samping kita. Kalau iya, apakah kita kesepian? Hm…saya koq yakin jawabannya pasti iya (ayo ngaku...ayo ngaku..). Padahal sobat, sebenarnya sampai kapanpun kita tidak akan pernah sendirian. Percaya nggak? Percaya nggak percaya, sebenarnya ada zat yang selalu mengawasi kita. Yup, Dia adalah Allah. Zat yang telah menciptakan  kita.
         Selain itu, masih ada lagi lho yang selalu melihat kita, yaitu malaikat Rokib dan Atid. Mereka setia mengikuti kita kemanapun kita pergi. Mereka tak bosan-bosannya mencatat amalan kita.
         Emm…sebenarnya masih ada satu lagi, yang selalu “mengintai” kita. Siapa lagi kalau bukan setan. Hiiiii….

Buah Ara untuk Raja

Buah Ara untuk Raja
            Ketika raja Timur Lenk menyerbu Turki, ia mendengar kabar tentang seorang laki-laki bernama Nasrudin Hoja yang tinggal di Akshehir. Ia pergi ke sana dan membangun tenda. Kemudian ia mengirim satu kompi tentara untuk mengundangnya pergi ke kemah tersebut.

            Akan tetapi Nasrudin berpikir bahwa raja ini akan membunuh setiap orang yang ia temui. Oleh karena itu, ia menolak undangan tersebut. Sang raja menyadari bahwa Nasrudin tidak ingin menemuinya. Kemudian ia mengirimkan satu batalyon tentara untuk memaksanya  pergi ke kemah.
            Nasrudin sangat takut. Ia berkata, “Baiklah, saya akan ke sana segera”.

Kehendak Allah

Kehendak Allah
               Alhamdulillah sobat….hari ini saya diberi kesempatan lagi oleh Allah untuk menuliskan hasil terjemahan kitab “silsilatul kitab” di blog tercinta ini. Semoga saya bisa lebih sering menerjemahkan. Amiin..yaa Robbal ‘alamiin…


            Kalau kemarin saya telah menerjemahkan “pendahuluan” dari tulisan Abdul Aziz Sayyid hasyim dengan judul “Qoshosu Aadaabillaah (قصص آداب الله)” kali ini yang akan saya terjemahkan adalah satu sub-judul tentang معيشة الله  (Kehendak Allah). Berikut ini adalah hasil terjemahannya:

Kehendak Allah
  


        Telah datang seorang laki-laki ke hadapan Rasulullah Sallallaahu’alaihi wasallam. Ia membicarakan banyak hal dengan Rasulullah Sallallaahu’alaihi wasallam. Kemudian di tengah pembicaraannya, laki-laki ini berkata: “Ini atas kehendak Allah dan kehendak engkau”

KEMI: Novel yang "Mengobrak-abrik" Kaum Sepilis

Oleh: Luqman Hakim
                                      

Judul : KEMI Cinta Kebebasan yang Tersesat

Pengarang : Dr. Adian Husaini

Penerbit : Gema Insani Press (GIP)

Cetakan : Pertama Oktober 2010

ISBN : 978-979-077-220-5

Tebal Halaman : 316 Halaman



          Ide liberalisasi Pemikiran Islam di Indonesia semakin gencar disosialisasikan. Hal itu bisa dilihat dari sepak terjang yang dilakukan oleh para “tokoh-tokoh” pengusung ide ini. Ulil Abshor, misalnya, seringkali menulis “gagasan liarnya” di beberapa Koran nasional seperti Kompas, Jawa Pos dan lain-lain. Selain itu, para “penganut” paham ini yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL) tak bosan-bosannya menuliskan ide liar mereka di situs islamlib.com. Belum lagi buku-buku, jurnal, bahkan skrispsi/tesis/disertasi bernuansa liberal bermunculan dari kampus-kampus perguruan tinggi Islam semisal Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Islam (UIN) kalijaga Yogyakarta, ataupun perguruan tinggi yang lain.

      Dalam menyampaikan gagasannya, mereka seringkali menggunakan kata-kata yang memukau dan bisa menjadikan pembaca awam mengangguk-angguk tanpa sadar membenarkan tulisan mereka.   Kalau menurut Al-Quran surah al-An’am ayat 112, apa yang mereka lakukan termasuk kategori “Zukhrufal qauli ghuruuro”, kata-kata yang indah dengan tujuan menipu.

Nasehat yang Baik

Nasehat yang Baik
       Nasrudin adalah laki-laki miskim yang tinggal di rumah yang jelek. Suatu hari istrinya meminta uang untuk membeli beras dan sayur-sayuran. Tapi ia tidak memiliki uang sama sekali. 

      Akhirnya ia mengambil satu karung yang besar dan panjang dan pergi ke pasar. Ia ingin menjadi seorang buruh. 

      Di pasar ia melihat sekolompok penjual barang-barang pecah belah (tembikar). Nasrudin mendekati salah seorang dari mereka dan menawarkan jasa untuk membawakan barang-barangnya.

       “Saya memiliki keranjang besar yang penuh dengan mangkok dan cangkir. Jika kamu membantu saya membawakannya ke rumah saya akan memberimu tiga nasehat terbaik”, kata penjual tersebut.

Memulai Upaya Wujudkan Mimpi

Memulai Upaya Wujudkan  Mimpi
       Sobat…….

      Dua bulan lalu, yaitu tepatnya tanggal 25 Agustus 2011, saya pernah menulis di blog ini dengan judul : “Sobat…Ini Tentang Mimpi”. Dalam tulisan tersebut saya berusaha menyemangati diri untuk meraih mimpi saya, yaitu menjadi penerjemah. Dan, sebagai upaya nyata yang akan saya lakukan adalah menerjemahkan kitab “Silsilatul kitab”. Dalam proses penerjemahan ini saya rencananya akan menulis sedikit demi sedikit, dan hasil terjemahan tersebut akan saya posting di blog ini. Itulah inti tulisan saya waktu itu.

         Namun seiring waktu, ternyata harapan dan rencana tersebut tak kunjung terlaksana. Banyak hal yang membuat diri ini “menyerah” pada keadaan sehingga upaya yang nyata yang hendak dilakukan tak kunjung terpenuhi. 

        Dua bulan. Ya, dua bulan. Tepatnya dua bulan lebih 8 hari terhitung sejak tanggal 25 Agustus 2011 sampai hari ini. Saya tak kunjung melaksanakan apa yang saya rencanakan. Tentu ini bukanlah waktu yang singkat. 

      Namun,
-->saya tetap berusaha untuk optimis. Dan, sebagai bukti usaha  tersebut, sekarang saya akan poting hasil terjemahan yang sangat sedikit. Sedikit tak mengapa. Yang penting ada upaya yang dilakukan. Kalau istiqomah, dari yang sedikit akan menjadi banyak, akan menjadi bukit.  Dan, akan menebar selaksa manfaat. InsyaAllah.
    Sebagaimana saya jelaskan dalam tulisan terdahulu, bahwa kitab “Silsilatul Adab ini terdiri dari beberapa bagian yang ditulis oleh ulama yang berbeda. Nah, hasil terjemahan di bawah ini adalah pendahuluan dari bagian kitab yang pertama. Bagian yang pertama ini berjudul “Qoshosu Aadaabillaah (قصص آداب الله)”. Artinya adalah cerita-cerita berkaitan dengan adab kepada Allah. Adapun penyusun bagian pertama dari kitab ini adalah Abdul Aziz Sayyid hasyim.  Saya berharap, apabila sobat sekalian menemukan ada kejanggalan dan kesalahan terjemahan, mohon kalau berkenan bisa menegur dan mengoreksi. Saya akan sangat berterima kasih.
    Baiklah, inilah hasil terjemahan saya yang berupa pendahuluan. Semoga bermanfaat.

Pendahuluan

            Allah SWT telah menciptakan kita dan memberikan kita nikmat yang teramat agung dan tak terhitung. Ia mengetahui semua gerak-gerik kita. Ia senantiasa mendengar apa yang kita bicarakan dan melihat apa yang kita perbuat. Ia juga mengetahui apa yang kita sembunyikan dan kita rahasiakan. Ia Maha Lembut terhadap kita dan maha Penyayang terhadap semua ciptaan-Nya. Ia juga Maha Suci lagi Maha Kuat dan memiliki siksa yang pedih. Ia menghitung semua amalan makhluq-Nya dan memberikan pembalasan atas   apa yang mereka  kerjakan.
     Dan kewajiban kita terhadap Allah adalah memilki adab yang baik terhadap-Nya. Seperti selalu melaksanakan ibadah dengan ikhlas, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak dan segala karunianya yang teramat agung, malu kepada-Nya untuk bermaksiat, menaati semua perintah-Nya, bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya, memperbaiki tawakkal dan kepasrahan atas-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap siksa-Nya.
     Dan di bawah ini adalah sebagian dari adab-adab yang akan menjadi hiasan bagi seorang muslim dalam hubungannya dengan Allah SWT.


Ponorogo, 2 November 2011





Besok adalah Hari Kiamat

Besok adalah Hari Kiamat
         Suatu hari beberapa anak datang menemui Nasrudin dan berkata, “Om, kambingmu sangat gemuk dan sehat. Bagaimana jika kita sembelih dan kita adakan pesta besok”.
              Nasrudin sayang kepada kambingnya. Ia tidak menuruti kemauan anak-anak itu untuk menyembelih kambing tersebut. Tapi, ia juga tidak mau mengecewakan mereka.
Ia berkata, “Jangan dulu, kambing itu belum cukup gemuk untuk disembelih. Tunggulah beberapa bulan lagi. Kambingnya akan sangat gemuk dan lezat”.
           Anak-anak tersebut tidak mau beranjak. Salah satu dari mereka berusaha mempengaruhi Narudin. “Om, Tidakkah kamu mendengar bahwa dua hari lagi adalah hari kiamat. Kambing itu tidak akan lebih gemuk pada hari itu. Mustahil untuk menjaga kambing itu”.
            Nasrudin sangat jengkel dengan alasan anak-anak tersebut. Ia kemudian berkata, “Baiklah, besok kita bertamasya dan mengadakan pesta bersama-sama”. Anak-anak itu pun bersorak gembira.
     Keesokan  paginya, Nasrudin dan anak-anak itu pergi bertamasya. Sesudah berjalan cukup lama, mereka menuju suatu tempat yang dekat dengan sungai. Anak-anak itu membujuk Nasrudin untuk segera menyembelih kambingnya. Nasrudin kemudian melakukan apa yang anak-anak itu inginkan.