Tampilkan postingan dengan label Adab dalam Berpakaian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab dalam Berpakaian. Tampilkan semua postingan

Hadiah yang Ditolak Nabi

Hadiah yang Ditolak Nabi
Umar bin Khattab RA berjalan-jalan di pasar. Di sana dia melihat sebuah pakaian bagus yang membuatnya takjub. Umar pun membelinya untuk dia jadikan hadiah kepada nabi Muhammad Saw. Dia berharap nabi Saw memakainya ketika menerima delegasi atau saat hari Jum’at.
 
Tatkala nabi Saw melihatnya dan mengetahui bahwa pakaian tersebut terbuat dari kain sutera yang Alah haramkan atas laki-laki, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya yang memakai pakaian ini adalah orang yang tidak punya akhlaq”.

Nabi Saw kemudian memberikan pakaian itu kepada Umar.

Umar merasa keheranan lalu berkata, “Bagaimana mungkin saya mengambil pakaian ini wahai Rasulullah dan engkau telah menerangkan begini dan begitu mengenai pakaian ini?”

Nabi Saw menjawab, “Saya memberikannya kepadamu agar kamu menjualnya atau kamu berikan kepada orang lain yang tidak dilarang memakainya”.

Umar kemudian beranjak pergi dan memberikan pakaian itu kepada saudaranya yang musyrik dalam rangka melaksanakan perintah nabi Saw”. (HR. Bukhari)




NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian ” dengan sub judul  “Al-Hadiyatu al-Marduudatu ”


Surabaya, 7 Januari 2016







Cincin yang Hilang

Cincin yang Hilang
Nabi Saw membeli cincin yang terbuat dari emas lalu memakainya di tangannya. Hal itu beliau lakukan sebelum diharamkan memakai cincin emas bagi laki-laki.

Ketika para sahabat melihat nabi Saw memakai cincin ini, setiap dari mereka membeli cincin lalu memakainya dalam rangka mengikuti nabi Saw.

Saat emas diharamkan bagi laki-laki, nabi Saw melihat di tangan para sahabatnya terdapat cincin yang terbuat dari emas, beliau melepas cincinnya dan bersabda, “Saya tidak akan memakainya selama-lamanya”.

Lalu nabi memakai cincin yang terbuat dari perak. Para sahabat pun memakai cincin pakai perak dalam rangka mengikuti nabi Saw.

Ketika nabi Saw wafat, Abu Bakar RA memakai cincin nabi Saw yang menunjukkan bahwa dia adalah pengganti Rasulullah Saw.

Tatkala Abu Bakar RA meninggal, Umar RA memakai cincin itu dan memiliki gelar Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukminin).

Saat Umar RA meninggal, Utsman RA memakai cincin itu hingga cincin itu hilang karena jatuh di sumur. (HR. Bukhari)



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian ” dengan sub judul  “Al-Khotim al-Mafquud ”



Surabaya, 6 Januari 2016






Doa yang Dikabulkan

Doa yang Dikabulkan
Rasulullah Saw membawa pakaian yang terbuat dari sutera kuning yang sudah disulam. Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “Kepada siapakah kiranya saya pakaikan pakaian ini?” Mereka semua diam, tak ada satu pun yang menjawab.
Nabi Saw lalu bersabda, “Datangkan kepada saya Ummu Kholid”.

 Keluarga Ummu Kholid pun segera mencarinya dan membawanya kehadapan nabi. Ummu Kholid adalah seorang anak perempuan kecil. Dia dilahirkan di negeri Habsyah, yaitu ketika kedua orang tuanya pergi ke sana demi menghindari siksaan musyrikin dari suku Quraisy.

Tatkala melihatnya, nabi Saw mengambil pakaian di tangannya dan memakaikan kepadanya. Beliau berkata kepadanya sambil bercanda, “Wahai Ummu Kholid, pakaian ini bagus, pakaian ini bagus”. 

Ummu Kholid merasa senang atas perlakuan nabi Saw dan dia berputar-putar di sekeliling beliau. Dia meletakkan tangannya di atas bahu beliau. Ayahnya berusaha mencegah apa yang dia lakukan, akan tetapi dilarang oleh nabi. 

Beliau bersabda, “Biarkanlah dia”. Nabi Saw kemudian berkata kepada Ummu Kholid, “Pakailah pakaian ini sampai usang dan lapuk, pakailah pakaian ini sampai usang dan lapuk”.

Apa yang nabi lakukan adalah doa agar Ummu Kholid panjang umurnya. Karena sesungguhnya barangsiapa yang panjang umurnya maka pakaiannya akan usang. (HR. Bukhori).



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian ” dengan sub judul  “Ad-Du’a wa al-Maqbuulu ”


Surabaya, 5 Januari 2016