Adab-adab dalam Memberi Nasehat

Adab-adab dalam Memberi Nasehat
Nabi Saw bersabda, “Agama adalah sehat”. Para sahabat bertanya, “untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan umat mereka” (Muttafaqun ‘Alaih).

Adab-adab nasihat jumlahnya banyak. Di antaranya ialah disampaikan dengan lemah lembut…Dan hendaknya nasehat disampaikan dengan cara yang baik. Kebenaran itu pahit, yang akan menjadikannya manis adalah nasehat yang baik.


Nasehat adalah jalan para Rasul, nabi, dan orang-orang shaleh di setiap zaman dan tempat. Setiap nabi memberi nasehat kepada kaumnya, yaitu menjelaskan kepada jalan yang lurus. Dan Allah menjadikan nasehat sebagai jalan untuk orang-orang shaleh setelah nabi.  

 Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imron: 104)

Dengan nasehat; umat akan memiliki derajat yang tinggi, kerusakan menjadi sedikit, akhlaq yang terpuji tersebar, dan masyarakat menjadi mulia.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam member nasehat” dengan sub judul  “Tamhiidun”.

Panceng, Gresik, 28 Februari 2014

Warisan Nabi

Warisan Nabi
 Abu Hurairah RA menyaksikan banyak manusia  telah sibuk bekerja dalam jual beli dan perdagangan. Mereka meninggalkan halaqoh ilmu di masjid. Hal itu terjadi setelah wafatnya Rasulullah Saw. Ia pun merasa sedih dengan kesedihan yang mendalam.
 
Pada suatu hari, Abu Hurairah RA pergi ke pasar. Ia berseru dengan meninggikan suara setinggi-tingginya, “Wahai penduduk pasar, warisan Rasululllah Saw sedang dibagi-bagi sedangkan kalian masih di sini? Tidaklah kalian pergi dan mengambil bagian kalian?”

Mereka bertanya, “di mana?”

Abu Hirairah menjawab, “Di masjid”.

Orang-orang pun bersegera menuju masjid, sedangkan Abu Hurairah berdiri menunggu mereka.

Tidak lama kemudian, orang-orang kembali dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, sungguh kamii telah mendatangi masjid. Tatkala kami masuk ke dalamnya kami tidak melihat sesuatu apapun yang sedang dibagi-bagikan”.

Ia kemudian bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian dapati di masjid?”

Mereka menjawab, “Kami mendapati beberapa orang sedang shalat, sebagian lainnya membaca al-Quran, dan sebagian lainnya saling mengingatkan tentang perkara halal dan haram”.

Abu Hurairah berkata, “Itulah warisan nabi Muhammad Saw”. (HR. Ath-Thabrani)




NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Miyraatsun Nabi”.

Panceng, Gresik, 28 Februari 2014


Berdzikir kepada Allah

Berdzikir kepada Allah

Muawiyah bin Abu Sufyan memasuki masjid. Ia mendapati banyak orang-orang duduk dalam bentuk halaqoh. Ia kemudian bertanya kepada mereka. Apa yang membuat kalian duduk? Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah”. Ia berkata lagi kepada mereka, “Allah, Apakah kalian tidak duduk melainkan untuk tujuan itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah. Tidaklah kami duduk melainkan untuk hal itu”.
 
Mu’awiyah berkata, “Sesungguhnya saya tidak meminta kalian untuk bersumpah. Akan tetapi karena pada suatu hari Rasulullah Saw memasuki masjid. Beliau mendapati para sahabat beliau berkumpul sembari duduk berdzikir kepada Allah. 

Beliau bersabda kepada mereka, ‘Apa yang membuat kalian duduk? Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya karena telah menunjukkan kami kepada jalan Islam’. 

Rasulullah Saw bersabda kembali, ‘Allah, Apakah kalian tidak duduk melainkan untuk tujuan itu?’  Mereka menjawab, ‘Demi Allah, tidaklah kami duduk melainkan untuk tujuan itu’. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya saya tidak meminta kalian untuk bersumpah. Akan tetapi Jibril telah mendatangiku dan mengabarkanku bahwa Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat”. (HR. Muslim)

Dari cerita ini bisa disimpulkan bahwa Allah membanggakan seorang hamba yang duduk di masjid untuk berdzikir kepada Allah dan mempelajari perkara-perkara agama.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Dzikrullaahi”.

Panceng, Gresik, 28 Februari 2014



Berjalan Menuju masjid

Berjalan Menuju masjid
 Bani Salamah tinggal di rumah-rumah yang jauh sekali dari masjid nabawi. Mereka suka dibicarakan karena banyaknya langkah mereka baik saat menuju masjid maupun ketika kembali dari masjid.

Pada suatu hari, Bani Salamah ingin menjual rumah-rumah mereka dan pindah ke tempat yang dekat dengan masjid. Kabar itu sampai ke Rasulullah Saw. Beliau pun memanggil mereka. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku telah mendengar kabar bahwa kalian ingin pindah ke tempat yang dekat dengan masjid”. Mereka menjawab, “Iya wahai Rasulullah. Sungguh kami menginginkan hal itu”.

Beliau bersabda lagi, “Wahai Bani Salamah! Jejak  kalian ditulis  (maksudnya adalah, Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian karena Allah menuliskan pahala setiap langkah kalian saat menuju masjid dan ketika kembali dari masjid). Nabi Saw mengulangi perkatan ini hingga 2 kali atau 3 kali.

Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya setiap langkah kalian memiliki derajat”

Bani Salamah kemudian membatalkan keinginan mereka untuk pindah rumah dan tetap tinggal di rumah-rumah mereka. Mereka berkata, “Tidaklah pindah rumah itu menyenangkan kami”. (HR. Muslim)



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Al-Masy-yu ilal Masjidi”.

Panceng, Gresik, 28 Februari 2014

Masjid Orang-orang Munafik

Masjid Orang-orang Munafik
Abu Amir Ar-Rahib adalah orang yang sangat memusuhi Rasulullah Saw. Tatkala Islam tersebar, ia kabur menuju Negara Romawi dan mengirim utusan kepada beberapa temannya dari kaum munafik untuk memberi kabar kepada mereka dan mengambil keputusan atas mereka. Dan bahwasanaya dia juga akan datang bersama tentara Romawi untuk memerangi nabi Muhammad Saw dan mengusirnya dari Madinah.
 
Maka kaum munafik pun membangun masjid yang mereka jadikan tempat mengatur rencana jahat mereka. Kemudian mereka pergi menemui nabi Saw dan meminta beliau agar shalat di sana. Akan tetapi waktu itu  nabi Saw hendak keluar untuk berperang pada perang tabuk. Beliau pun menunda untuk pergi menuju masjid mereka sampai beliau kembali dari perang.

Allah SWT memberitahu nabi-Nya terkait apa yang diinginkan oleh kaum munafik. Alah berfirman:

 “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya)”. (QS. At-Taubah: 107)

Nabi Saw pun memenuhi perintah Allah, yaitu merobohkan masjid itu dan membakarnya.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “masjidul Munafikin”.


Panceng, Gresik, 28 Februari 2014