Goresan Hikmah Part 11

Goresan Hikmah Part  11

Barangsiapa mampu menaklukkan waktu...
Maka dia akan menjadi orang sukses...

Umur bukan penentu kedewasaan dan kesuksesan...
Kemauan yang kuat dan usaha nyata adalah di antara penentunya...

Sabar itu mutlak diperlukan...
Bagi pendamba kesuksesan dan kebahagiaan...

Barangsiapa mampu menaklukkan waktunya...
Siapapun yang bisa mengatur dirinya untuk hanya melakukan yang semestinya dilakukan...
Maka cepat atau lambat dia akan menjadi orang yang sukses dan bahagia...

Komitmen atas apa yang diucapkan dan dijanjikan adalah mutiara yang berkilauan...
Barangsiapa mampu melakukannya, maka dia mendapatkan prestasi luat biasa...

Sikap bangga diri dan memuji diri-sendiri bersifat halus...
Kita harus ekstra hati-hati terhadap keduanya...

Kalau diniatkan karena Allah, segala sesuatu akan terasa ringan...

Aduhai betapa meruginya jika umur terus bertambah, sementara ilmu dan karya tak ada penambahan sedikitpun atau malah berkurang...

Mengikuti aturan, hidup akan teratur...
Menyelisihi aturan, hidup akan kacau...

Ada yang merasakan dosa adalah gunung tinggi yang akan runtuh mengenai dirinya...
Ada yang menganggap dosa adalah makanan lezat yang harus dimakan setiap hari...
Kalau kita termasuk yang mana???
Jawaban jujur kita menentukan kualitas keimanan yang kita miliki...

Sukses tidak sukses, bisa tidak bisa, dan mencapai target atau tidak mencapai target ditentukan oleh besar kecilnya semangat yang ada di dalam dada...

10 tahun ke depan harus lebih baik dari 10 tahun kemarin...
5 tahun ke depan harus lebih baik dari 5 tahun kemarin...
Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini...
Tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin...
Bulan ini harus lebih baik dari tahun bulan kemarin...
Pekan ini haris lebih baik dari pekan kemarin..
Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin...
Harus...

Harus terus semangat walau diri sering terkalahkan oleh diri sendiri. Ketika kembali berbuat kesalahan, berarti telah menemukan cara agar diri ini hancur. Sehingga, tindakan itu tidak perlu diulangi lagi.

Semakin bertambahnya waktu, godaan dalam belajar semakin besar hingga membuat kita tidak sadar. Kita pun akan lupa dengan tujuan awal kita, yaitu menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Maka dari itu, kita harus ekstra sabar dalam menghadapi semua godaan yang ada.

Keburukan apapun yang menimpa, itu akibat perbuatan kita. Jika kebaikan yang datang, itu karena karunia Allah, bukan karena kita.

Barangsiapa mampu mensyukuri, menerima, dan tidak mengeluh atas segala yang ada, maka kebahagiaan akan selalu terbit di hatinya.

Mewujudkan apa yang diinginkan bukanlah sebuah kemustahilan.

Bahagia adalah tidak mengeluh atas apa yang Allah berikan.

Sahabat sejati adalah mereka yang tak hanya suka memuji kita, namun juga mau mengoreksi kesalahan yang kita lakukan.

Seorang muslim tak layak mengutuk dirinya sendiri. Tak pantas baginya bermuram durja lantaran merasa dirinya adalah seekor semut hitam di atas batu hitam pada tengah malam yang pekat. Padahal, dia adalah berlian yang kemilaunya berpendar ke seluruh alam.

Pembelajar sejati adalah pencari dan penuntut ilmu, bukan pencari dan penuntut nilai.

Juara yang benar-benar juara adalah mereka yang paling bersih dan paling jujur dalam proses mencapai hasil.

Godaan untuk tidak berbuat jujur itu teramat banyak. Tapi pilihan terbaik adalah berusaha untuk tetap jujur. Sungguh beruntung orang yang mampu berbuat jujur dalam kondisi apapun.

Jaim (jaga image) dan caper (cari perhatian) semestinya ditujukan kepada Sang Kuasa, bukan kepada manusia yang tak punya daya dan penuh alpa.

"Kalau kalian ingin agar ilmu kalian semakin berkembang, mengajarlah. Karena dengan mengajar justru banyak hal baru yang didapatkan"
*Pesan inspiratif dari Syeikh Abu Jalil, Ulama dari Timur Tengah

"Apabila seseorang merasa bertambah pandai ketika belajar, berarti ada yang salah dalam belajarnya. Belajar yang benar adalah ketika semakin lama belajar dia justru merasa semakin bodoh, karena ternyata masih banyak hal yang tidak diketahui"
"Pesan inspiratif dari Dr. Nafik, dosen UINSA Surabaya

"Kalau merasa malas, jenuh, sumpek, dan terpuruk saya mengingat kembali tujuan penciptaan kita di dunia. Hal itu membuat saya lebih semangat dan optimis melakukan kebaikan-kebaikan dalam Islam. Semua hal yang dilakukan akan bernilai pahala jika dilakukan karena Allah"
*Pesan inspiratif dari seseorang

Teman sejati adalah mereka yang tetap mau mengingatkan temannya ketika menurutnya ada yang kurang benar dan perlu diperbaiki, walau hal itu terasa berat dan pahit baginya.

"Semakin sering seorang wanita memajang fotonya di hadapan miliaran manusia (selfie), semakin berkurang kemuliaan dirinya sebagai seorang wanita"
*Pesan penting dari salah seorang ustadz

"Tidak semua hal harus ditanggapi, dan tak perlu dimasukkan ke dalam hati agar tidak mendapatkan kesusahan di kemudian hari"
*Pesan inspiratif dari teman

Perbuatan/tindakan salah tak perlu disesali secara mendalam. Dengan melakukan kesalahan kita tetap mendapatkan ilmu baru, yaitu cara agar tidak berhasil. Sehingga di waktu yang lain kita tidak lagi mengulangi kesalahan tersebut.

Kita adalah kita. Kita bukanlah orang lain. Tak perlu memaksa diri menjadi orang lain jika memang tidak bisa. Kita memiliki keistimewaan, kekhasan, dan keunikan sendiri yang orang lain tidak punya.

Jangan mengkambing hitamkan kesibukan yang seolah menumpuk. Tapi salahkanlah kebiasaan menyia-nyiakan tumpukan waktu kosong dan longgar.

Dua orang yang seharusnya kita iri (iri positif) kepada mereka: orang yang punya banyak harta lalu disedekahkan dan orang yang memiliki banyak ilmu lalu diamalkan dan diajarkan.
*Inspirasi dari wisdom nabi Muhammad Saw

Tujuan utama belajar bukanlah untuk menumpuk angka di atas selembar kertas, melainkan untuk memperdalam pemahaman dan memetik manfaat dari ilmu yang dipelajari.

Mengikuti tuntunan ilmu akan menghasilkan ketentraman dan kebahagiaan hakiki. Menuruti rayuan gombal hawa nafsu akan mendapatkan kepuasan sekejap dan tertimpa kesengsaraan berkepanjangan.
Tindak tanduk kita dituntun dan dipandu oleh ilmu dan hawa nafsu. Kalau dituntun oleh ilmu, kita akan selamat. Namun jika dipandu oleh hawa nafsu, celakalah kita.

Rasa malas harus dibunuh. Rasa putus asa harus diperangi. Harus dan harus. Karena keduanya adalah penyebab terbesar kegagalan dan kehancuran kita.

Mengharap perhatian manusia akan mendapatkan kekecewaan atau kesenangan semu...
Mengharap perhatian Sang Pencipta bakal memperoleh kebahagiaan dan ketenangan...

Hidayah itu diminta, dicari, dan diperjuangkan...
Bukan ditunggu sambil duduk manis...

Kita tidak perlu merasa wah dan hebat ketika dinilai baik oleh orang lain...
Karena pada hakikatnya mereka tidak tahu apa-apa tentang diri kita...
Hanya Dia Yang Paling Tahu siapa diri kita sebenarnya...

"Jangan sekali-kali memandang sinis pelaku dosa, sebab ia bukan setan yang tidak ada kemungkinan menjadi baik. Jika ia bertobat dan terus menerus menambah ilmu dan ibadahnya, bisa jadi ia melampaui keilmuan dan kesalehan Anda."
*Prof. Dr. Ali Aziz dalam artikel beliau yang berjudul "Hidup Masih Koma Belum Titik".

Orang cerdas adalah orang yang gemar melakukan kebaikan sebagai persiapan untuk kehidupan setelah mati..
Orang yang tidak cerdas adalah orang yang selalu menuruti keinginan Hawa nafsunya...
*Inspirasi dari khatib Jum'at

Apa yang ada jarang disyukuri..
Apa yang tiada sering dirisaukan...
Itulah kita...

Di antara ciri kebodohan adalah mengulang kesalahan yang sama. Maka jika kita sering melakukan kesalahan dan dosa yang sama, berarti kita termasuk orang yang bodoh atau teramat bodoh.

Bahasa amal (action) adalah bahasa yang paling mudah dipahami.
*Inspirasi dari salah seorang ustadz

Kita tak perlu membenci diri-sendiri ketika membuat kesalahan. Karena orang baik bukanlah orang yang tak pernah berbuat salah. Orang baik adalah mereka yang ketika melakukan kesalahan kemudian sadar, menyesal, dan berusaha keras untuk tidak mengulangi.

Berfikir dan berusaha pada hari ini akan berdampak pada masa depan kita. Tapi kalau hanya memikirkan masa depan maka tak akan memiliki dampak apa-apa pada hari ini. Jadi fokuslah pada hari ini.
*Inspirasi dari salah seorang ustadz

Menjaga hijab tidak harus kaku. Namun sensitivitas hijab jangan sampai hilang.
Penataan niat dalam belajar harus terus-menerus dipersegar. Kalau tidak, niat tersebut akan rusak dan akhirnya proses dan hasil yang didapat akan hancur.

Sudahkah kita mencintai kebaikan? Sudahkah kita membenci kejelekan? Marilah kita jwb pertanyaan ini dengan tindakan, bukan dg ucapan yg menawan dan berkilauan.

Jika dosa sudah dianggap makanan sehari-hari dan ancaman neraka dipandang sebagai gertakan sambal, jangan-jangan hati kita sedang sakit parah dan harus segera dioperasi.

Coba sesekali kita berpikir, kita sering merasa diperhatikan manusia atau sering merasa diawasi oleh Zat Yang Maha Melihat? Lebih sering yang mana?

Merasa lebih baik dari orang lain adalah kotoran berpenyakit yang setiap hari harus dibuang ke tempat sampah.

Walau bagaimanapun, berbaik sangka kepada seseorang tetap lebih baik dan hendaknya menjadi pilihan utama.

Ilmu itu seperti air, mengalir ke tempat yang lebih rendah...
Maka kalau mau menjadi lautan ilmu, kita hendaknya meniru lautan yang selalu memposisikan diri lebih rendah dari yang lain...

Terkadang kita perlu dicambuk agar motivasi semakin melejit, sebagaimana kuda akan berlari kencang ketika terkena cambukan.

Orang besar adalah mereka yang ikut memikirkan nasib orang banyak...
Orang kecil adalah orang yang hanya memikirkan nasib dirinya sendiri...

Nilai seseorang bukan diukur dari apa yang tampak dari luar, melainkan dilihat dari berkas cahaya yang memancar dari dalam dirinya.

Kita tidak bisa baik dan sukses sendirian. Kita butuh masukan, penilaian, dan kritikan dari orang lain. Jadi kalau ada yang memberi masukan, penilaian, dan kritikan kita tak perlu marah. Justru kita mesti berterima kasih padanya.

Cukup dengan merubah diri-sendiri, kita sudah bisa merubah orang lain.

Nasib apapun yang menimpa kita, yakinlah, itu adalah yang terbaik dari-Nya. Hanya saja terkadang kita belum mampu memahami.

Komitmen adalah berlian paling berharga di dunia...
Kalau mampu memilikinya, sungguh kita akan menjadi manusia paling sukses dan beruntung...


Menolong orang lain= menolong diri sendiri
Mengajar orang lain = mengajar diri sendiri
Bersedekah kepada orang lain = bersedekah kepada diri sendiri
Mengingatkan orang lain = mengingatkan diri sendiri

Mimpi + Tekad + Tindakan = Kenyataan
*Inspirasi dari sahabat

Teman sejati adalah mereka yang mau mengingatkan temannya ketika berbuat salah sekalipun berada di tempat yang berjauhan.

Kalau hidup ini dipandang sebagai beban, maka yang dirasakan adalah beban hidup...
Tapi kalau hidup ini dianggap sebagai karunia, yang ada adalah rasa nikmat...

Bersedekah tidak harus dengan uang atau makanan. Bersedekah juga bisa dengan membagikan kata-kata positif melalui media sosial. Jadi cukup bermodal facebook, twitter, atau BBM kita sudah bisa bersedekah sebanyak-banyaknya
*Inspirasi dari wisdom nabi

Sungguh, bahagia akan mudah didapatkan jika kita gampang memaafkan.

Fokus adalah kekuatan. Barangsiapa mau sukses maka dia harus belajar dan berlatih untuk fokus.

Seorang pembelajar harus terus menerus mengingat, apa tujuan awal dia belajar? Mengapa dia belajar? Apa yang seharusnya dia lakukan? Dengan begitu ia akan selamat dari godaan-godaan yang akan menghancurkan dirinya.


Emas tetap bernilai tinggi walau berada di tumpukan sampah. Maka jadilah generasi emas agar memiliki nilai tinggi di hadapan Allah di manapun berada.
*Motivasi dari ust. Kholiq, pimpinan STAIL Hidayatullah Surabaya


Kalau kita menjadikan tugas, kewajiban, pekerjaan dan amanah sebagai "beban" maka hidup akan penuh dengan tekanan. Tapi jika kita menjadikannya sebagai "kebutuhan, tantangan, hobi, dan ibadah" maka hidup akan terasa menyenangkan dan penuh gairah.

Barangsiapa yang haus pujian, berarti ia telah menipu dirinya sendiri. Ia tertipu, karena merasa pantas mendapatkan pujian. Padahal, yang layak hanyalah Dia Sang Maha Terpuji. Adapun manusia, secuilpun tak layak mencicipinya.

NB: Goresan hikmah part 11 ini merupakan gabungan dari coretan sederhana saya di buku diary selama bulan Januari sampai bulan Agustus 2015 dan status FB saya periode Januari sampaiAgustus 2015. Semoga bermanfaat. J


Surabaya, 23 Agustus 2015

Abu Bakar dan Kainnya

Pada suatu hari, nabi Saw duduk-duduk bersama para sahabat. Beliau ingin mengajari mereka adab-adab berpakaian dalam Islam.

Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. Karena orang yang yang melakukan hal itu membanggakan dan menyombongkan dirinya atas orang lain. Allah membenci orang-orang yang sombong dan tidak akan melihat mereka.

Abu Bakar RA takut akan hal itu dan berkata kepada nabi, “Wahai Rasulullah, sesungghnya kainku selalu melorot kecuali saya angkat lagi”.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya engkau bukan termasuk yang melakukannya karena sombong”. (Yaitu melorotnya kainmu tidak menunjukkan bahwa kamu berbuat sombong dengan pakaianmu).

Ini adalah persaksian yang agung dari Rasulullah Saw kepada Abu Bakar RA bahwa dia tetap termasuk orang yang tawadhu’ di hadapan Allah walaupun sarungnya sering melorot.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian ” dengan sub judul  “at-Tsanaul Hasan”


Surabaya, 22 Agustus 2015

Terlaknatnya Para Bencong dan Perempuan Tomboy

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash RA sedang duduk-duduk pada salah satu bulan haram. Tiba-tiba dia melihat seorang perempuan berpakaian menggunakan pakaian laki-laki, membawa busur panah, dan berjalan seperti laki-laki.

Abdullah marah dan bertanya, “Siapakah perempuan ini?”

Orang-orang pun memberitahu nama perempuan tersebut. Dia kemudian berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Bukan termasuk golongan kami perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan” (HR. Ahmad)

Dalam hal ini syariat Islam menjaga kemaskulinan laki-laki dan kefemininan perempuan. Laki-laki memiliki bentuk tubuh dan karakter yang berbeda dengan perempuan. Oleh karena itu, nabi Saw melaknat para banci (bencong) dan perempuan-perempuan yang tomboy. (HR. Bukhari)

  
NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian ” dengan sub judul  “Mamnuu’u at-Tasyabbuh”


Surabaya, 22 Agustus 2015

Karena Doa, Nyawaku Terselamatkan

Sungguh aku telah mengalami sebuah peristiwa yang membuatku semakin sadar bahwa Allah itu benar-benar ada dan Dia akan selalu menolong hamba-Nya yang meminta tolong. Bagiku tak berguna teori orang-orang Barat modern yang menyangsikan kekuatan doa. Mungkin bagi mereka doa tak ada gunanya. Tapi bagiku, doa merupakan sebuah keajaiban yang  tak ada tandingannya. Aku masih ingat sebuah hadits nabi yang menyatakan bahwa doa merupakan senjata untuk merubah takdir. Buktinya, aku merasakan sendiri betapa  senjata bernama doa ini memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.

Kejadian ini berawal dari keinginanku merantau ke sebuah tempat asing di sebuah pedalaman, tepatnya di Sorong, Papua untuk bekerja. Dengan berat hati aku minta izin kepada kedua orangtua agar bisa pergi ke sana. Dengan mata berkaca-kaca ibu dan ayah melepaskan kepergianku sambil  berpesan agar aku tak meninggalkan ibadah terutama shalat.

Sesampai di Papua, aku pun bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku bekerja tak mengenal waktu. Namun aku tak mengikuti pesan orang tua agar menjaga amal ibadahku. Yang ada dalam pikiranku hanyalah kerja, kerja, dan kerja.

Sampai suatu ketika, aku bersama empat orang teman bercengkerama dan bersenda gurau di sebuah warung kopi. Saat itu tiba-tiba muncul beberapa orang yang berasal dari suku pedalaman Papua yang masih mengenakan pakaian ala kadarnya (koteka). Sontak tanpa dipandu kami menertawakan mereka yang dalam pandangan kami primitif dan terlihat lucu.
Melihat kami tertawa, mereka pun merasa tersinggung dan langsung memukul-mukul mulut mereka sambil berteriak dengan bunyi khas. Ternyata yang mereka  lakukan adalah sebuah kode agar teman-teman mereka berkumpul untuk membantu. Kami sangat terkejut karena dalam waktu yang singkat puluhan laki-laki dengan penampilan yang sama dilengkapi persenjataan lengkap berkumpul dan langsung mengejar kami.

Tanpa berpikir panjang kami pun lari secepat mungkin. Aku sendiri berlari tanpa berpikir harus pergi ke mana. Nahasnya, aku terpisah dengan teman-temanku dan terjebak di sebuah pantai. Saat itu aku bingung. Sebab jika aku terus berlari, maka laut siap menenggelamkanku. Saat itulah aku memutar badan untuk berlari mencari arah yang lain. Aku terperanjat karena saat aku berbalik, puluhan laki-laki papua sudah mengelilingiku. Panah-panah sudah mereka arahkan ke badanku.

Aku hanya bisa pasrah. Bayangan kematian sudah di depan mata. Tak ada lagi tempat untuk berlari. Aku memejamkan mata karena merasa sangat takut. Buliran bening tanpa terasa jatuh di atas pipiku. Tiba-tiba aku teringat kepada Allah dan segala kelalaianku selama ini. Aku begitu jauh dari-Nya. Banyak perintah-Nya yang aku lalaikan, sementara larangan-Nya banyak yang aku terjang. Di tengah kemelut yang melanda, aku berdoa kepada Allah, “Ya Allah, tolong selamatkan hamba-Mu ini. Kalau masih diberi kesempatan hidup, aku berjanji akan lebih taat kepada-Mu”.

Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba kepala suku berteriak menyuruh anak buahnya menurunkan anak panah dan melarang  membunuhku. Belum reda rasa heranku, mereka malah mendekat dan satu persatu menyalamiku sambil menunjukkan muka yang ceria dan bersahabat.

Subhanallah, Maha Kuasa Allah. Pertolongan-Nya sungguh nyata. Aku pun berpikir, betapa sayangnya Allah kepadaku. Diriku yang penuh dosa dan sering melalaikan perintah-Nya masih mendapatkan pertolongan-Nya.

Aku pun menceritakan kisah ini kepada orangtuaku. Dan ternyata, ibuku juga bercerita bahwa pada waktu yang sama dia juga berdoa atas keselamatanku. Karena tiba-tiba  dia merasa bahwa diriku berada dalam bahaya. Subhanallah. Ternyata pertolongan Allah tidak hanya disebabkan oleh doaku, melainkan karena doa ibuku.

Sejak itulah aku tak henti-hentinya selalu minta doa kepada orang tua setiap kali bertemu. Aku juga terus berusaha memperbaiki diri, dan selalu mengingat pesan-pesan kedua orangtuaku untuk selalu menjaga ketaatanku  kepada Allah serta tak lagi melalaikan perintah-Nya, terutama shalat.

(Seperti diceritakan Andi Irham kepada Luqman Hakim)


NB: Tulisan ini dimuat di majalah Mulia edisi Januari 2015 dengan judul "Allah Memberiku Kesempatan Hidup di Saat maut Sudah di Depan Mata". Semoga bermanfaat :)


Surabaya, 9 Januari 2015

Goresan Hikmah Part 10

Goresan Hikmah Part 10
Hidup ini penuh dengan dinamika...
Kita harus pandai dalam mengarunginya...

Masa depan kita cerah atau gelap, kita yang menentukan...
Bukan orang lain...

 Mungkin hasil dan nilai kita pada hari ini lebih jelek daripada kemarin...
Namun setidaknya, semangat dan upaya kita sudah lebih baik...

Kitalah yang harus mempengaruhi orang lain dalam kebaikan...
Jangan sampai kita yang dipengaruhi dengan kejelekan...

Hidup adalah peperangan...
Berperang melawan setan dan hawa nafsu yang jahat...

Masa depan adalah detik-detik menjelang kematian dan masa setelah kematian. Manusia terbaik adalah yang selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Sering-seringlah mengucapkan kalimat afirmasi positif...
Maka semangat akan terbit di hati...

Rumus sukses: “Munculkan kegelisahan dalam diri”...

Hidup di dunia Cuma sebentar. Maka maksimalkanlah hidup ini. Berilah yang terbaik. Buatlah yang terbaik.

Selagi masih ada Allah, harapan masih terbuka lebar. Dan ingatlah, Allah selalu ada. Dia tidak pernah tidur dan lalai. Dia Maha Mampu Atas Segala Apapun.

Kita tidak perlu malu dan takut melakukan kebaikan...
Kita memang perlu menjaga diri dari riya’ dan sombong...
Tapi bukan berarti kita harus menyembunyikan kebenaran...
Bukan berarti kita dilarang menyebarkan kebaikan...

Hidup hanya sekali di dunia...
Jangan sampai tidak dinikmati...
Nikmatilah hidup ini, walau dalam kondisi apapun...

Jangan bersedih atas satu atau dua hal yang tidak dipunyai...
Tapi berbahagialah karena ada jutaan hal yang masih dimiliki...

Kita harus berani menghancurkan kebiasaan jelek yang masih menghinggapi diri...
Kalau tidak, ia yang akan menghancurkan kita...

Berikanlah yang terbaik. Bisa jadi apa yang kita lakukan sekarang adalah yang terakhir...

Gedung pencakar langit dimulai pembangunannya dari sebuah batu kecil. Seorang profesor memulai karirnya dengan menghafal angka 1 dan belajar menulis huruf “a”. Jadi kita tak perlu khawatir memulai dari yang terkecil.

Hal apapun dalam hidup ini butuh pengorbanan dan perjuangan. Dalam hal apapun...

Tetap tersenyum dan bahagia ketika datang ujian Allah, merupakan sikap yang paling tepat...

Masa depan kita memang masih misteri. Namun, kita masih bisa merancang dan berupaya agar masa depan kita berwarna cerah dan menarik. Kitalah yang menentukan masa depan kita, bukan orang lain.

Menjadi orang yang baik adalah perjuangan. Baik menurut Allah, bukan menurut manusia.

Mau sukses kok tidak mau capek...
Mau jadi orang besar kok tidak mau pusing...
Gimana ceritanya?

Kalau dibenci teman, guru, atau orang-orang terdekat, kita akan merasa sedih dan takut. Kita berusaha mati-matian agar mereka tak membenci kita. Akan tetapi, apakah reaksi dan sikap kita sama terhadap Allah? Apakah kita takut dibenci Allah? Apakah kita sedih jika Allah membenci kita? Ingatlah, kalau kita banyak melanggar perintah-Nya dan sering melakukan larangan-Nya, maka Allah akan marah dan membenci kita. Sekali lagi, apakah kita takut dibenci Allah? Atau, kita justru tenang-tenang saja tanpa ada rasa risih sedikitpun?

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak menyebarkan manfaat untuk orang lain", Sabda Rasul.
Sudahkah kita menyebar manfaat hari ini? Berapa banyak manfaat yang kita sebarkan?

Mungkin hasil yang kita raih belumlah yang terbaik, tapi setidaknya semangat dan usaha kita sudah yang terbaik. "Prestasi" terbaik tidak hanya dinilai dari hasil, tapi semangat dan kerasnya usaha yang dilakukan.

Banyak hal yang bisa menghambat perjalanan kesuksesan kita. Tugas kita adalah mencari penghambat-penghambat itu lalu "membunuh"-nya. Kalau tidak, kita yang akan "dibunuh" oleh penghambat tersebut.

Tidak semua apa yang kita pikirkan dan kita rasakan "berkata" jujur kepada kita. Ada pikiran dan perasaan tertentu yang "berbohong" sehingga tidak perlu kita percayai. Terutama, pikiran dan perasaan yang negatif.

Celakalah orang yang tak bisa mengatur dirinya sendiri......

Walau bagaimanapun, berbuat jujur tetap lebih baik.....

Bersikap hati-hati itu penting....

Kalau jujur merenung, maka kita akan berkesimpulan bahwa apa yang tidak kita ketahui jauuuuh lebih banyak dari apa yang kita ketahui. Oleh karena itulah sungguh bodoh orang yang merasa dirinya pintar dan hebat.

...apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku'. Sekali-kali tidak...."
Kutipan kalimat di atas disampaikan langsung oleh Allah dalam surat al-fajr ayat enam belas sampai tujuh belas. Ayat ini menunjukkan, bahwa hal buruk yang menimpa kita baik berupa bencana, penyakit, kekurangan harta, dan sebagainya bukan berarti Allah menghinakan kita. Tapi Allah bermaksud menguji kita.

Kalau kita ingin menguasai suatu cabang ilmu, maka kita harus mencintainya. Dengan mencintai cabang ilmu tersebut, kita akan betah dan berlama-lama dalam mempelajarinya. Akan tetapi, untuk bisa mencintai itu tidak mudah. Butuh perjuangan. Karena sebagaimana kata Bagus Hernowo, cinta itu bukan kata benda yang ada dengan sendirinya. Tapi cinta adalah kata kerja yang harus diusahakan dan diperjuangkan.

Hidup adalah perjuangan. Berjuang dalam segala lini. Dan, berjuang yang bagus adalah yang totalitas. Karena kalau hanya setengah-setengah, tak ada yang dicapai kecuali teramat sedikit atau nihil tak ada sama sekali



NB: Goresan Hikmah ke-10 ini merupakan gabungan dari coretan sederhana di buku diary yang dimulai dari 3 Oktober 2014 sampai  Desember 2014 dan dari status FB saya mulai tanggal 8 Mei 2014 sampai 24 desember 2014. Semoga bermanfaat J

Goresan Hikmah Part 9

Goresan Hikmah Part 9
Apa mau, kita gitu-gitu aja...
Apa mau, tak ada perubahan dalam diri kita...
Apa mau menjadi seperti batu, diam tak bergerak...

Mumpung masih muda...
Mumpung masih sempat...
Mumpung masih sehat...
Mumpung masih ada harta...
Mumpung masih hidup...
Sehingga, seyogyanya kita memaksimalkan hidup ini...
Seharusnya kita tak menyia-nyiakan apa yang telah Allah berikan...

Berterima kasihlah kepada Allah...
Karena Dia banyak memberikan karunia-Nya kepada kita...
Berterima kasihlah dengan berprestasi...
Berterima kasihlah dengan berkarya...

Impian itu bisa diraih...
Cita-cita itu bisa direngkuh...

Bukanlah cita-cita yang terlalu besar...
Tapi usaha kita yang terlalu kecil...

Hidup ini adalah untuk mengabdi kepada Allah...
Hidup ini adalah sarana untuk merah surga di akhirat...
Hidup ini bukanlah hidup yang terakhir...
Hidup ini adalah awal dari kehidupan yang sebenarnya...

Hidup ini harus tumbuh...
Kemampuan diri harus meningkat...
Kualitas hidup harus naik...

Take action...
Beramal...
Bekerja...
Bergerak...
Adalah syarat utama untuk meraih apa yang diinginkan...

Apakah kita sering sedih? Kalau iya, berarti kita termasuk orang-orang yang durhaka kepada Allah. Karena bersedih adalah larangan-Nya. Dan, setiap larangan Allah harus kita tinggalkan. “Laa tahzan”, “Jangan bersedih”, demikianlah larangan Allah dalam al-Quran. Pertanyaannya sekarang, apakah kita masih mau mendurhakai-Nya dengan banyak bersedih?

Maksiat mata akan menyebabkan bodoh. Terbukti, daya hafal Imam Syafi'i menjadi lemah ketika melihat aurat (betis) perempuan bukan mahram. Akhir-akhir ini juga terdapat penelitian yang menyatakan bahwa melihat gambar/video porno menyebabkan jutaan sel otak mati. Jadi kesimpulannya, barangsiapa ingin bertambah bodoh, perbanyaklah melakukan maksiat mata.

Hidup harus terus bertumbuh. Kalau tak ada pertumbuhan, berarti tanda tak hidup. Yang harus bertumbuh tidak hanya usia dan raga, tapi juga keahlian dan prestasi. Jadi kalau keahlian dan prestasi tak ikut tumbuh, hidup kita patut dipersoalkan.

Kalau suka meminta kepada manusia, kita akan dicap sebagai orang hina. Namun kalau rajin meminta kepada Allah, kita akan menjadi orang mulia. Justru, kalau dalam keseharian kita jarang meminta (berdoa) kepada Allah maka kita dikategorikan sebagai orang sombong. Pada hari ini, sudah berapa doa yang kita panjatkan?

Pencipta kita adalah Allah, bukan hawa nafsu. Penguasa alam adalah Allah, bukan hawa nafsu. Yang berhak disembah hanyalah Allah, bukan hawa nafsu. Tapi kita sering mempertuhankan hawa nafsu. Taat kepada hawa nafsu. Tunduk kepada hawa nafsu. Sementara perintah dan larangan Allah kita abaikan.

Kalau bersumber dari hati, segala sesuatu akan bernilai besar dan memiliki pengaruh luar biasa. Kalau tidak, maka hanya kehancuran yang akan menimpa.

Pertanyaan sederhana yang cukup menyentak, apa manfaat yang sudah kita berikan pada orang lain pada hari ini?

Kalau mau menjadi orang baik, hendaknya berkumpul dengan orang baik. Kalau mau menjadi orang sukses, hendaknya berkumpul dengan orang sukses. Kita adalah siapa teman kita.

Orang yang berjiwa besar akan merasakan persoalan besar layaknya permasalahan kecil. Ia tidak takut walau berbagai permasalahan menyerbu dari segala arah. Ia tetap tenang seperti tenangnya air danau. Ia punya keyakinan, bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah kecil, kecuali Allah. Allah-lah yang Maha Besar, yang lain kecil.

Allah lebih menyukai amalan yang sedikit tapi rutin, daripada banyak tapi tersendat-sendat.

Sungguh celaka orang yang tidak mengenal jati dirinya...
Sungguh sengsara orang yang tak mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri...
Sungguh binasa orang yang dihancurkan dan diombang-ambingkan nafsu jahatnya sendiri...
Sungguh celaka, sengsara, dan binasa orang yang tak mampu menaklukkan dirinya sendiri...



NB: Goresan Hikmah ke-9 ini saya ambil dari coretan sederhana di buku diary yang dimulai 7 Maret 2014 sampai 28 September 2014 dan juga dari status FB saya mulai tanggal 8 Mei 2014 sampai 5 September 2014. Semoga bermanfaat J

Hukum Memanjangkan Pakaian Bagi Laki-laki dan Perempuan

Hukum Memanjangkan Pakaian Bagi Laki-laki dan Perempuan
Adalah sifat para sahabat jika mendengar perintah dari nabi, mereka segera memenuhi seruan itu.

Pada suatu hari, nabi Saw memerintahkan para sahabat agar memendekkan pakaian sehingga terhindar dari kesombongan. Beliau  kemudian memberikan ancaman bagi orang yang memanjangkan pakaian mereka, “Barangsiapa yang menjulurkan (memanjangkan) pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat”.

Merasa penasaran, Ummu Salamah bertanya kepada nabi tentang hukum memanjangkan pakaian bagi perempuan, “Bagaimana seharusnya untuk perempuan, apa juga harus dipendekkan?”

Rasulullah menjawab, “(Untuk perempuan), hendaknya mereka mengendorkan pankaiannya hingga satu jengkal”

Ummu Salamah berkata, “Jika begitu,  kaki mereka akan tersingkap”.

Rasulullah bersabda, “Kendorkan hingga satu hasta, jangan lebih”. (HR. Tirmidzi)


NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian ” dengan sub judul  “Tsiyabun Nisa”


Panceng, 1 Desember  2014



Tidak Sombong dalam Berpakaian

Tidak Sombong dalam Berpakaian

Islam menganjurkan bagi pemeluknya untuk tawadhu’ dan menjaga kebersihan. Hal itu ditunjukkan secara dzahir dalam berpakaian. Karena itulah, ketika Ibnu Umar RA berlalu melewati Rasulullah dan sarungnya terlihat panjang hampir menyentuh tanah, Rasulullah Saw menegurnya, “Angkat sarungmu”. Perintah Rasulullah Saw tersebut bertujuan agar Ibnu Umar  tawadhu’, karena memanjangkan sarung adalah salah satu tanda kesombongan.  

Ibnu Umar RA pun mengangkat sarungnya, akan tetapi sarungnya masih terlihat panjang.

Rasulullah Saw bersabda, “Tambah”. Maksudnya adalah agar Ibnu Umar mengangkat sarungya lebih tinggi.

Ibnu Umar kembali mengangkat sarungnya lebih tinggi. Sejak saat itu, sepanjang hidup Ibnu Umar senantiasa mengangkat sarungnya, sehingga tidak masuk rasa sombong ke dalam hatinya.

Salah satu teman Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Sampai mana?” (Maksudnya sampai mana kamu mengangkat sarungmu?)

Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan 2 mata kaki” (HR. Muslim)


NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian” dengan sub judul  “Ath-Tho’atu”


Panceng, 3 November 2014

“Pakailah Pakaian yang Bagus!”

“Pakailah Pakaian yang Bagus!”
Suatu hari, Jabir bin Abdullah ikut berperang bersama Rasulullah Saw. Dalam perjalanan pulang, Jabir beristirahat di bawah pohon yang rindang. Ia menawarkan Rasulullah Saw untuk bersama-sama bernaung di bawah pohon. Nabi pun memenuhi tawaran Jabir.
Tak berapa lama kemudian, seorang pemuda yang mengembalakan kambing Jabir datang menemuinya dengan membawa pakaian yang sudah lusuh.
Rasulullah Saw melihat hal itu lalu bertanya kepada Jabir, “Apakah pemuda itu tidak punya baju selain yang dia pakai?”
Jabir menjawab, “Dia punya pakaian yang bagus wahai Rasulullah. Dia memakainya saat hari raya”.
Rasulullah bersabda, “Panggil dia dan perintahkan untuk memakai pakaian itu”.
Jabir pun memanggil pemuda tersebut  dan menyuruhnya agar memakai pakaian baru yang dimilikinya.
Ketika Rasulullah Saw melihat si pemuda pakaian barunya beliau bersabda, “Bukankah hal ini lebih baik baginya?”



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian” dengan sub judul  “Ats-Tsaubul Jadid”


Surabaya, 1 November 2014

Adab dalam Berpakaian

Adab dalam Berpakaian
Pakaian adalah salah satu nikmat yang Allah anugerahkan kepada manusia untuk melindungi badannya serta menutup auratnya dari pandangan manusia.

Allah berfirman:
“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakain takwa, itulah yang lebih baik” (Al-A’raf: 26).

Seorang muslim hendaknya memakai pakain yang bagus; terutama ketika hendak menemui Rabb-nya di masjid.

Allah berfirman:
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid” (Al-A’raf: 31).

Berpakaian hukumnya wajib untuk menutupi aurat dan melindungi raganya. Akan tetapi berubah menjadi haram apabila bertujuan untuk membangga-banggakan diri dan berbuat kesombongan. Begitu pula diharamkan jika seorang laki-laki memakai pakaian yang terbuat dari sutera.

Dalam berpakaian terdapat adab-adab yang hendaknya dijaga oleh seorang muslim. Kitab ini akan menjelaskan  adab-adab dalam berpakaian yang disajikan dalam kisah-kisah yang bermanfaat.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Berpakaian ” dengan sub judul  “At-Tamhiidu”


Surabaya, 14 September 2014