Kesucian Masjid

  Kesucian Masjid
 Pada suatu hari, Rasulullah saw duduk di masjid bersama para sahabat. Tiba-tiba datang seorang arab badui menuju sebuah tempat di masjid dan buang air kecil di sana.

Tatkala para sahabat RA melihat hal itu, mereka berteriak dan membentak laki-laki itu. Mereka berdiri hendak mendatanginya dan melarangnya. Rasulullah Saw memerintahkan untuk tidak melakukan hal itu.

Ketika laki-laki itu sudah menyelesaikan kencingnya, Nabi Saw memanggilnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya masjid bukanlah tempat membuang air kecil maupun besar. Masjid ini adalah tempat berdzikir, shalat, dan membaca al-Quran”.

Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan agar mengambil seember air dan menyiramkannya ke tempat yang terkena air kencing”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Dengan cara inilah Rasululah Saw mengajarkan kita pentingnya kesucian tempat shalat  kaum muslimin.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Thahaaratul Masjid”.


Panceng, Gresik, 27 Februari 2014



Meninggikan Suara di Masjid

Meninggikan Suara di Masjid
Amirul mukminin Umar bin Khattab RA memperingatkan dan melarang kaum muslimin untuk tidak menninggikan suara mereka di masjid. Ia berkata, “Jauhilah oleh kalian bermain-main di masjid (dengan meninggikan suara). Sesungguhnya  masjid kita ini bukanlah tempat untuk meninggikan suara”.

Pada suatu hari, Umar RA memasuki masjid dan ia mendapati 2 laki-laki yang tidak ia kenali sedang berbincang-bincang dengan meninggikan suara mereka. Pada waktu itu, ada Saib bin Yazid RA yang sedang tidur di masjid. Umar melemparinya dengan beberapa kerikil. Saib menoleh kepada orang yang melemparnya. Ia pun mengetahui bahwa Umarlah yang melemparnya. 

Bersyair di Masjid

Bersyair di Masjid

Nabi Saw meminta Hasan bin Tsabit RA untuk membela beliau dan Islam dengan bersyair. Hasan pun mendirikan mimbar di masjid. Ia berdiri di atasnya dan menyindir orang kafir dengan syairnya. 


Tatkala Umar menjadi amiril mukminin, suatu hari ia memasuki masjid nabawi. Ia mendapati Hasan mendendangkan syair. Ia member isyarat kepada Hasan agar diam. Hasan pun berkata, “Dulu saya mendendangkan syair dan waktu itu ada orang yang lebih baik dari engkau (nabi Muhammad)”.


Hasan ingin menguatkan apa yang dikatakannya dengan memanggil Abu Hurairah. Ia berkata, “Bukankah kamu mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Belalah saya (sebagai respon atas cacian orang kafir) dengan mengatakan (berupa syair); ‘Ya Allah kuatkan dia (Rasul) dengan ruhul kudus (JIbril)’?


Abu Hurairah RA menjawab, “Iya”. (Muttafaqun Alaih)







NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Asy-syi’ru fil masjid”.




Panceng, Gresik, 16 Februari 2014


Goresan Hikmah Part 7

Goresan Hikmah Part 7

CUKUP dengan “merasa” lebih baik daripada orang lain….
Seseorang sudah “layak” dikategorikan ORANG SOMBONG…

Salah satu cara agar kita tidak membenci orang lain ialah dengan memintakan ampun kepada Allah untuk mereka, mendoakan mereka agar bisa lebih baik, dan agar menjadi orang sukses baik di dunia maupun di akhirat…

Kita adalah raja terhadap diri kita…
Kitalah yang berhak menguasai diri kita, bukan orang lain…

Mengedepankan perasaan itu penting…
Tapi jangan sampai mematikan nalar…

Tersenyum dan berbahagia tatkala mengenang kebaikan di masa lalu adalah hal penting…
Namun yang lebih penting adalah bagaimana saat ini bisa berkarya melebihi masa lalu…

Tumbuhan yang Dibenci

  Tumbuhan yang Dibenci
 Dalam  perjalanan pulang dari perang khaibar, kaum muslimin melewati suatu tempat yang terdapat bawang merah dan bawang putih. Waktu itu mereka kelaparan. Maka sebagian dari mereka memakannnya sampai kenyang dan sebagian yang lain tidak. Mereka pun pergi ke masjid.

Sesampainya di masjid, para sahabat yang tidak makan bawang  dipanggil oleh Rasulullah untuk shalat bersamg makan beliau. Adapun sahabat yang makan bawang diakhirkan sampai bau bawang hilang dari mulut mereka.

Usai shalat, nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang memakan tumbuhan yang jelek (baunya tidak enak) maka jangan mendekati  kami yang ada di masjid”.

Larangan Menanyakan Barang Hilang di Masjid

Larangan  Menanyakan  Barang Hilang di Masjid
Saudaraku, pernahkah kita kehilangan barang kesayangan kita? Rasa-rasanya semua orang pernah merasakan kehilangan. Nah, dalam agama Islam yang sempurna ini, terdapat ajaran penting bagi kita selaku orang-orang yang menyatakan diri seorang muslim. Islam, dalam hal ini Rasulullah Saw, telah melarang kita untuk menanyakan barang-barang kita yang hilang tersebut di masjid. Sebaiknya kita mencari  dan menanyakannya di tempat yang lain. 
 
Kenapa? Karena dalam rangka untuk menghormati tempat ibadah kaum muslimin. Agar, orang-orang yang sedang beribadah di sana tidak terganggu.  Selain itu, sebagaimana dijelaskan Rasulullah  Saw, karena masjid dibangun bukan untuk dijadikan tempat menanyakan barang-barang yang hilang. 

Mari kita baca bersama-sama sebuah cerita singkat yang saya nukilkan dari kitab silsilatul adab pada bab adab-adab masjid:

Salah seorang  arab badui memiliki unta berwarna merah. Pada suatu hari, unta tersebut hilang. Ia pun mencarinya sepanjang malam tapi tak berhasil menemukannya.

Goresan Hikmah Part 6

Goresan Hikmah Part 6
Orang besar adalah orang yang berpikir tentang perkara-perkara besar....
Orang kerdil adalah orang yang berpikir tentang perkara-perkara sepele...


Kita adalah apa yang kita pikirkan dan kita lakukan....

 Tidak perlu takut menjadi pemula....
Semua orang hebat berawal dari seorang pemula...


Dalam diri manusia senantiasa ada masa-masa kelam dan juga masa-masa cerah...
Yang paling penting bukan berapa banyak perbandingan antara kedua masa tersebut. Akan tetapi, ketika nafas terakhir berhembus, kita ada di masa yang mana?...
Maka sikap yang terbaik adalah selalu berusaha mengakhiri masa-masa kelam yang ada, dan terus berupaya menciptakan masa-masa cerah....
Karena kita tidak tahu, saat malaikat menjemput kita berada di masa yang mana...

Menghormati Masjid

Menghormati Masjid
Pada suatu hari, Rasulullah Saw duduk bersama para sahabat di masjid untuk mengajari mereka tentang perkara agama.

Waktu itu, Abu Qatadah RA memasuki masjid. Dia melihat Rasulullah Saw bermajlis taklim dengan sahabat. Abu Qatadah kemudian pergi menemui mereka dan duduk bersama mereka. 

Nabi Saw bersabda kepada Abu Qatadah , "Apa yang menghalangimu untuk shalat dua rakaat sebelum duduk?"

Adab-adab di Masjid

Adab-adab di Masjid
Masjid adalah rumah Allah. Ia adalah sebaik-baik tempat di muka bumi. Di dalamnya terdapat rahmat dan ketenangan. Orang-orang yang beriman memakmurkannya dengan banyak beribadah. Allah berfirman, "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir" (QS. At-Taubah: 18)

Sungguh Allah telah menjanjikan para pengunjung masjid dengan pahala yang agung. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang pergi ke masjid dan kembali darinya, maka Allah menjanjikan untuknya sebuah tempat yang indah di surga setiap kali dia berangkat dan kembali" (Muttafaqun 'Alaih).

Inilah Keutamaan membaca dan Menghatamkan Al-Quran; Tidak Tertarikkah Kita?

Inilah Keutamaan membaca dan Menghatamkan Al-Quran; Tidak Tertarikkah Kita?


Saudaraku, bulan Ramadhan yang penuh berkah sudah datang menemui kita. Bagaimana perasaan kita ketika ia datang? Apakah hati kita riang dan wajah kita ceria saat ‘menatap’-nya? Ataukah kita anggap ia sebagai tamu rutin, sama dengan tamu-tamu yang lain? Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senang dalam menyambutnya. Senang karena banyak sekali janji-janji menggiurkan yang Allah persiapkan untuk kita; seperti pahala yang berlipat ganda, ampunan yang dibuka seluas-luasnya, dan sebagainya.

Saudaraku, bulan Ramadhan juga disebut-sebut sebagai bulan Al-Quran (Syahrul Quran). Mengapa? Karena ayat Al-Quran yang pertama kali turun ke bumi diturunkan pada bulan yang mulia ini. Maka tidak mengherankan jika para sahabat nabi dan ulama-ulama kita terdahulu berlomba-lomba dalam membaca Al-Quran. Bahkan, kalau kita lihat di Indonesia, banyak orang yang juga terlihat aktif melantunkan kalam ilahi ini di bulan yang suci ini. Banyak di antara mereka yang menargetkan untuk bisa menghatamkan Al-Quran sebanyak yang mereka bisa.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk yang semangat dalam membaca Al-Quran? Apakah kita juga sudah menargetkan agar bisa hatam Al-Quran?



Saudaraku, menurut para trainer, agar kita bisa semangat dalam melakukan suatu pekerjaan maka kita hendaknya tahu apa manfaat dari pekerjaan itu. Maka dari itulah, agar kita semangat dalam membaca dan menghatamkan Al-Quran, hendaknya kita mengetahui apa saja keutamaan membaca dan  mengahatamkan Al-Quran.