Waktu Shalat

   Waktu Shalat
Nabi Saw sangat menginginkan para sahabat dengan keinginan yang sangat besar agar mereka melakukan kebaikan-kebaikan dan menjauhi jalan-jalan setan. Oleh karena itulah beliau memerintahkan mereka agar tidak keluar dari masjid ketika adzan telah dikumandangkan kecuali mereka telah menunaikan shalat. 
 
Pada suatu hari, Abu Hurairah RA duduk di masjid nabawi. Di masjid tersebut telah berkumpul para sahabat dan tabi’in. Setelah tiba waktu adzan, muadzin pun mengumandangkan adzan.

Di saat adzan masih dikumandangkan oleh muadzin, seorang laki-laki berdiri lalu keluar dari masjid. Abu Hurairah RA melihat laki-laki itu dan terus memandangnya sampai keluar dari masjid. Tatkala laki-laki itu telah keluar dari masjid, ia berkata, “Orang ini sungguh telah mendurhakai Abu Qosim (Rasulullah Saw)[HR. Muslim]



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Waqtus Sholah”.


Panceng, Gresik, 27 Februari 2014

Pahala yang Agung

Pahala yang Agung
Ada seorang laki-laki Anshor yang tempat tinggalnya  jauh sekali dari masjid. Walaupun demikian, ia memiliki keinginan yang kuat untuk shalat di belakang Rasulullah Saw. Ia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di setiap waktu shalat. Hal itu menjadikan para sahabat yang lain merasa kasihan kepadanya.
 
Kemudian Ubay bin Ka’ab RA menawarinya keledai sehingga dia bisa mengendarainya. Tujuannya ialah agar ia terjaga dari panasnya pasir yang sangat menyengat tatkala menuju masjid.

Laki-laki itu berkata, “Tidaklah membuatku bahagia jika rumahku dekat dengan masjid. Sesunggunya aku ingin agar setiap  langkahku sewaktu  menuju masjid dan ketika kembali ke rumah dicatat oleh Allah sebagai pahala”.

Para sahabat yang lain menyampaikan kepada Rasulullah saw ucapan laki-laki tersebut. Maka beliau kemudian bersabda kepada laki-laki ini, “Sungguh Allah telah mencatat setiap langkahmu itu dengan pahala”. (HR. Muslim)



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Ats-tsawaabul ‘Adhiimu”.


Panceng, Gresik, 27 Februari 2014

Membersihkan Masjid

  Membersihkan Masjid
Pada zaman Rasulullah Saw terdapat seorang wanita yang selalu membersihkan masjid dan menjaga kebersihannya. Nabi Saw bersimpati kepadanya dan menanyakan keadaannya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih atas apa yang ia lakukan.

Pada suatu hari, nabi Saw memasuki masjid tapi tidak mendapati wanita tersebut. Beliau bertanya tentangnya kepada para sahabat. Mereka menjawab “wanita itu sudah meninggal”. Mereka juga memberitahu Rasul Saw bahwa mereka sudah memandikannya, menyolatkannya, dan mengkafaninya. 

Mendengar  hal itu, Rasulullah Saw bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan kepada saya sebelumnya?” Beliau kemudian bertanya tempat kuburannya. Mereka pun menunjukkan kepada Rasulullah Saw tempat wanita tersebut dikuburkan. Lalu Rasulullah Saw pergi menuju kuburannya dan shalat atasnya sebagai bentuk penghormatan.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan bagi para penghuninya. Kemudian Allah menyinarinya dengan perantara shalatku atas mereka”. (HR. Muslim)
Sungguh  Rasulullah Saw bersikap seperti ini terhadap wanita tersebut karena ia menegakkan amalan agung, yaitu membersihkan masjid dan menjaga kebersihannya.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Tandhiiful Masjid”.


Panceng, Gresik, 27 Februari 2014


Kesucian Masjid

  Kesucian Masjid
 Pada suatu hari, Rasulullah saw duduk di masjid bersama para sahabat. Tiba-tiba datang seorang arab badui menuju sebuah tempat di masjid dan buang air kecil di sana.

Tatkala para sahabat RA melihat hal itu, mereka berteriak dan membentak laki-laki itu. Mereka berdiri hendak mendatanginya dan melarangnya. Rasulullah Saw memerintahkan untuk tidak melakukan hal itu.

Ketika laki-laki itu sudah menyelesaikan kencingnya, Nabi Saw memanggilnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya masjid bukanlah tempat membuang air kecil maupun besar. Masjid ini adalah tempat berdzikir, shalat, dan membaca al-Quran”.

Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan agar mengambil seember air dan menyiramkannya ke tempat yang terkena air kencing”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Dengan cara inilah Rasululah Saw mengajarkan kita pentingnya kesucian tempat shalat  kaum muslimin.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Thahaaratul Masjid”.


Panceng, Gresik, 27 Februari 2014



Meninggikan Suara di Masjid

Meninggikan Suara di Masjid
Amirul mukminin Umar bin Khattab RA memperingatkan dan melarang kaum muslimin untuk tidak menninggikan suara mereka di masjid. Ia berkata, “Jauhilah oleh kalian bermain-main di masjid (dengan meninggikan suara). Sesungguhnya  masjid kita ini bukanlah tempat untuk meninggikan suara”.

Pada suatu hari, Umar RA memasuki masjid dan ia mendapati 2 laki-laki yang tidak ia kenali sedang berbincang-bincang dengan meninggikan suara mereka. Pada waktu itu, ada Saib bin Yazid RA yang sedang tidur di masjid. Umar melemparinya dengan beberapa kerikil. Saib menoleh kepada orang yang melemparnya. Ia pun mengetahui bahwa Umarlah yang melemparnya. 

Bersyair di Masjid

Bersyair di Masjid

Nabi Saw meminta Hasan bin Tsabit RA untuk membela beliau dan Islam dengan bersyair. Hasan pun mendirikan mimbar di masjid. Ia berdiri di atasnya dan menyindir orang kafir dengan syairnya. 


Tatkala Umar menjadi amiril mukminin, suatu hari ia memasuki masjid nabawi. Ia mendapati Hasan mendendangkan syair. Ia member isyarat kepada Hasan agar diam. Hasan pun berkata, “Dulu saya mendendangkan syair dan waktu itu ada orang yang lebih baik dari engkau (nabi Muhammad)”.


Hasan ingin menguatkan apa yang dikatakannya dengan memanggil Abu Hurairah. Ia berkata, “Bukankah kamu mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Belalah saya (sebagai respon atas cacian orang kafir) dengan mengatakan (berupa syair); ‘Ya Allah kuatkan dia (Rasul) dengan ruhul kudus (JIbril)’?


Abu Hurairah RA menjawab, “Iya”. (Muttafaqun Alaih)







NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “Asy-syi’ru fil masjid”.




Panceng, Gresik, 16 Februari 2014


Goresan Hikmah Part 7

Goresan Hikmah Part 7

CUKUP dengan “merasa” lebih baik daripada orang lain….
Seseorang sudah “layak” dikategorikan ORANG SOMBONG…

Salah satu cara agar kita tidak membenci orang lain ialah dengan memintakan ampun kepada Allah untuk mereka, mendoakan mereka agar bisa lebih baik, dan agar menjadi orang sukses baik di dunia maupun di akhirat…

Kita adalah raja terhadap diri kita…
Kitalah yang berhak menguasai diri kita, bukan orang lain…

Mengedepankan perasaan itu penting…
Tapi jangan sampai mematikan nalar…

Tersenyum dan berbahagia tatkala mengenang kebaikan di masa lalu adalah hal penting…
Namun yang lebih penting adalah bagaimana saat ini bisa berkarya melebihi masa lalu…

Tumbuhan yang Dibenci

  Tumbuhan yang Dibenci
 Dalam  perjalanan pulang dari perang khaibar, kaum muslimin melewati suatu tempat yang terdapat bawang merah dan bawang putih. Waktu itu mereka kelaparan. Maka sebagian dari mereka memakannnya sampai kenyang dan sebagian yang lain tidak. Mereka pun pergi ke masjid.

Sesampainya di masjid, para sahabat yang tidak makan bawang  dipanggil oleh Rasulullah untuk shalat bersamg makan beliau. Adapun sahabat yang makan bawang diakhirkan sampai bau bawang hilang dari mulut mereka.

Usai shalat, nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang memakan tumbuhan yang jelek (baunya tidak enak) maka jangan mendekati  kami yang ada di masjid”.

Larangan Menanyakan Barang Hilang di Masjid

Larangan  Menanyakan  Barang Hilang di Masjid
Saudaraku, pernahkah kita kehilangan barang kesayangan kita? Rasa-rasanya semua orang pernah merasakan kehilangan. Nah, dalam agama Islam yang sempurna ini, terdapat ajaran penting bagi kita selaku orang-orang yang menyatakan diri seorang muslim. Islam, dalam hal ini Rasulullah Saw, telah melarang kita untuk menanyakan barang-barang kita yang hilang tersebut di masjid. Sebaiknya kita mencari  dan menanyakannya di tempat yang lain. 
 
Kenapa? Karena dalam rangka untuk menghormati tempat ibadah kaum muslimin. Agar, orang-orang yang sedang beribadah di sana tidak terganggu.  Selain itu, sebagaimana dijelaskan Rasulullah  Saw, karena masjid dibangun bukan untuk dijadikan tempat menanyakan barang-barang yang hilang. 

Mari kita baca bersama-sama sebuah cerita singkat yang saya nukilkan dari kitab silsilatul adab pada bab adab-adab masjid:

Salah seorang  arab badui memiliki unta berwarna merah. Pada suatu hari, unta tersebut hilang. Ia pun mencarinya sepanjang malam tapi tak berhasil menemukannya.