Keluhuran Nasehat Jarir

Keluhuran Nasehat Jarir
Pada suatu Hari, Umar bin Kattab RA duduk bersama beberapa orang-orang. Kemudian ada seseorang yang mengeluarkan angin (kentut). Umar pun berkata: “Orang yang melakukan ini harus berwudhu’ “


Jarir bin Abdullah Al-Bajli RA hadir waktu itu dan ingin menyelamatkan orang yang telah mengeluarkan angin (kentut). Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana kalau kita semua saja yang berwudhu”.


Umar bin Khattab RA merasa takjub dengan pendapat yang disampaikan Jarir. Ia berkata kepada Jarir sebagai ungkapan terima kasih, “Jazakallahu khairan”.


Umar kemudian menyuruh semua orang yang duduk-duduk bersamanya waktu itu untuk berwudhu’. Maka selamatlah orang yang mengeluarkan angin (kentut) disebabkan keluhuran nasehat Jarir bin Abdullah. (Ibnu Abdil Barri).


NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Memberi Nasehat ” dengan sub judul  Nasiihatu Jariir”

 Panceng, Gresik, 11 April 2014

Cerdas dalam Memberi Nasehat

Cerdas dalam Memberi Nasehat
Pada zaman dahulu kala, ada dua orang bersaudara yang dididik oleh orangtuanya dengan pendidikan yang baik.

Kedua pemuda ini selalu semangat belajar segala sesuatu yang bermanfaat bagi mereka dalam kehidupan ini. Mereka juga mempelajari berbagai macam disiplin keilmuan hingga mereka memahami dengan baik perkara-perkara agama walaupun mereka masih muda.

Pada suatu hari, mereka melihat seseorang yang sudah tua tidak menyempurnakan wudhu’. Mereka mencari cara agar bisa memberitahu laki-laki tua tersebut tanpa membuatnya merasa digurui.

Keduanya pergi menemui laki-laki tua tersebut dan meminta tolong kepadanya untuk menilai mana di antara wudhu’ keduanya yang lebih benar dan lebih baik.
Kedua pemuda itu pun berwudhu’ di depannya. Tatkala mereka selesai berwudhu’, lali-laki tua itu berkata, “Kalian berdua benar dan saya salah”.

Ia pun berterima kasih kepada kedua pemuda tersebut. Ia merasa senang dengan kecerdasan kedua pemuda itu dalam memberi nasehat.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Memberi Nasehat ” dengan sub judul  “Dzakaaun fin Nashiihati”


 Panceng, Gresik, 14 Maret 2014


Pemberi Nasehat dan Khalifah

   Pemberi Nasehat dan Khalifah
Pada suatu hari, seorang laki-laki meminta izin untuk menemui khalifah Abbasiyah, Al-Makmun. Ketika diberi izin, ia pun masuk ke kediaman sang khalifah. Ia pun memberi salam hormat dan memberitahu maksud kedatangannya yang tidak lain adalah untuk memberi nasehat kepada sang khalifah. Laki-laki ini kemudian menyampaikan nasehat dengan keras dan tajam.

Al-Makmun merasa heran dengan cara menyampaikan nasehat laki-laki ini yang jauh dari kelemahlembutan, halus, dan penuh hikmah. Sang khalifah  pun berkata kepadanya, “Wahai laki-laki, sampaikanlah dengan lemah lembut. Sungguh Allah telah mengutus orang yang lebih baik darimu kepada orang yang lebih jelek dariku, dan dia menyampaikan dengan lemah lembut”. 

Laki-laki ini merasa heran dan bertanya-tanya siapakah orang yang Allah utus untuk memberi nasehat tersebut dan siapa juga juga orang yang dia beri nasehat.
Ketika Al-Makmun melihat laki-laki tersebut heran dan tercengang, ia pun berkata, “Allah mengutus nabi Musa AS dan saudaranya Harun AS kepada fir’aun. Allah berfirman kepada keduanya, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut” (QS. Thaha: 44)


NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Memberi Nasehat ” dengan sub judul  “As-Naashihu wal Khaliifatu”

 Panceng, Gresik, 13 Maret 2014

Goresan Hikmah Part 8

Goresan Hikmah Part 8
Kita tidak perlu “terlalu” memikirkan masa lalu...
Yang perlu kita pikirkan dan kita tatap adalah masa depan...
Karena; baik buruknya seseorang bukan dinilai dari masa lalunya, tapi “masa depan”-nya...

Sudahkah berusaha maksimal?
Sudahkah pol-polan?
Sudahkah?

Muslim yang baik semestinya tidak takut dengan finansial dirinya...
Muslim yang baik selalu yakin bahwa Allah akan memenuhi kebutuhannya...
Dan tentunya, tetap dengan upaya yang sungguh-sungguh...

Allah Maha Kaya...
Dia akan membagikan “harta”-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki...

Ingin menjadi kaya bukanlah perkara yang dilarang...
Bahkan, banyak dari sahabat Rasul yang kaya raya...
Hanya saja, jangan sampai melupakan akhirat...

Pikiran kerdil akan menyebabkan semangat kerdil...
Pesimis akan menyebabkan kegagalan...
Sikap kalah akan menjadikan kita benar-benar kalah...

Lemah Lembut dalam Memberi Nasehat

Lemah Lembut dalam Memberi Nasehat
 Mu’awiyah bin Al-Hikam As-Silmi RA pergi ke kota Madinah untuk mempelajari adab-adab dalam Islam. Di sana dia bertemu Rasulullah Saw.

Tatkala tiba waktu shalat, ia masuk masjid untuk menunaikan shalat (secara berjama’ah). Saat shalat sedang berlangsung, seorang laki-laki bersin dan berkata, “Al-Hamdulillah”. Mu’awiyah pun berkata kepadanya dengan suara yang keras, “Yarhamukallah”. 

Ketika Mu’awiyah berbicara dalam shalat, para sahabat memperingatkannya agar diam, tidak berbicara dalam shalat. Usai shalat, nabi Saw bersabda, “Siapa tadi yang berbicara?” Para Jama’ah shalat menjawab, “Orang Arab Badui ini”.

Nabi Saw pun memanggilnya dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya bacaan dalam shalat iu adalah al-Quran dan dzikir kepada Allah. Jika kamu sedang shalat, maka lakukanlah itu”.

Mu’awiyah berkata, “Saya tidak mendapati seorang pengajar yang lebih lemah lembut daripada Rasulullah Saw”. (HR. Abu Daud)



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Memberi Nasehat ” dengan sub judul  “Rifqun Fin Nasiihah”

 Panceng, Gresik, 7 Maret 2014

Seorang Arab Badui di Masjid

Seorang Arab Badui di Masjid
Pada suatu hari, Rasulullah Saw duduk bersama para sahabat di masjid. Tiba-tiba datang seorang arab badui berdiri dan kencing di dalamnya. 

Tatkala para sahabat melihat hal ini, mereka bersegera untuk mencegahnya. Nabi Saw memberi isyarat kepada mereka seraya bersabda, “Biarkan ia sampai menyelesaikan kencingnya”.

Para sahabat meninggalkan laki-laki itu sampai menyelesaikan hajatnya. Lalu Nabi Saw memanggil laki-laki itu.

Tatkala laki-laki itu berdiri di depan nabi Saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya masjid bukanlah tempat membuang air kecil maupun air besar. Masjid ini adalah tempat berdzikir, shalat, dan membaca al-Quran”.
Kemudian Rasulullah Saw menoleh kepada para sahabat dan bersabda, “Tuangkanlah di atas air kencing itu dengan satu  timba atau satu ember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit” (Muttafaqun ‘Alaih)



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab di Masjid” dengan sub judul  “A’raabii fil Masjid”.


Panceng, Gresik, 1 Maret 2014