Kehebatan Adu Gulat Rasul

Kehebatan Adu Gulat Rasul
Di Mekah ada seorang laki-laki yang kuat bernama Rukanah. Tak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya dalam adu gulat. Pada suatu hari, Rukanah menantang nabi Saw untuk  bergulat dengannya. Dia berjanji akan memberikan nabi seekor kambing jika mengalahkannya. Nabi pun menerima tantangan bergulat dengan Rukanah dan berhasil mengalahkannya. Karena menang, nabi mengambil kambing yang dijanjikan.

Rukanah berkata, “Ulangilah sekali lagi”. Nabi pun bergulat sekali lagi dengan nabi Saw. Nabi menang kembali dan mendapatkan kambing yang kedua.

Rukanah berujar lagi, “Ulangilah sekali lagi”. Nabi kembali melayani permintaan Rukanah untuk bergulat. Nabi kembali menang dan beliaupun mendapatkan kambing yang ketiga.

Rukanah kemudian mengeluh, “Apa yang akan aku katakan kepada keluargaku? Kambing pertama dimakan serigala, kambing kedua kabur. Lalu apa yang akan aku katakan untuk kambing yang ketiga?”

Nabi Saw bersabda, “Saya bergulat denganmu tidak untuk mendapatkan hadiah, ambillah kambing-kambingmu” (HR. Abu Daud)

Nabi Saw menerima tantangan Rukanah dengan tujuan memberinya pelajaran agar tidak menyombongkan diri. Rasul juga mengingatkan Rukanah bahwa ada orang yang lebih kuat darinya, maka hendaklah dia tawaddhu’ dan tidak memamerkan ototnya kepada orang lain.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Bermain dan Bersenda gurau ” dengan sub judul  “Al-‘Mushaara’atu”


Surabaya, 16 Agustus 2014



Perempuan Tua dan Surga

Perempuan Tua dan Surga
Seorang Perempuan tua mendekati Rasul Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah saya agar masuk surga”. Rasul Saw bersabda dengan bercanda, “Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya orang yang tua tidak akan masuk surga”. 

Perempuan tua itu pun merasa sedih dan takut. Rasul kemudian bersabda, “Sesungguhnya engkau akan dikembalikan menjadi muda di surga” (HR. Al-Baihaqi). Allah berfirman, “Kami menciptakan mereka secara langsung, lalu kami jadikan mereka perawan” (QS. Al-Waqi’ah: 35-36)

Perempuan tua itu pun senang dengan kabar gembira ini. Ia mengetahui bahwa perkataan nabi Saw adalah senda gurau yang memancingnya untuk tersenyum dan agar tercipta kebahagiaan dalam jiwanya. Karena bagaimana mungkin manusia yang sudah tua bisa menikmati surga? Adapun orang yang muda memiliki keistimewaan berupa kesehatan, kekuatan, dan kemampuan dalam menjalani kehidupan serta memikul tanggung jawab yang ada di pundaknya.

Dari kisah ini kita belajar dari Rasul Saw agar menciptakan senyuman dalam kehidupan. Tidak bermuka masam atau melakukan sikap penentangan. Sesungguhnya kita perlu menghilangkan permasalahan-permasalahan yang ada di dalam kehidupan.




NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Bermain dan Bersenda gurau ” dengan sub judul  “Al-‘Ajuuzu wal Jannatu”

Surabaya, 15 Agustus 2014


Sasaran Tembak

Sasaran Tembak
Pada suatu hari, Abdullah bin Umar bin Khattab RA berjalan melewati pemuda Quraisy. Mereka menaruh seekor burung di suatu tempat dan menjadikannya sasaran tembak. Mereka memanah burung tersebut dengan anak panah mereka. Apabila anak panah mereka tidak mengenai burung, maka anak panah tersebut diberikan kepada pemilik burung.

Ketika para pemuda tersebut melihat Ibnu Umar berjalan ke arah mereka, mereka takut dan membubarkan diri. Ibnu Umar berkata, “Siapa yang melakukan ini? Allah melaknat orang yang melakukan ini. Sungguh Rasulullah Saw melaknat orang yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran tembak” (HR. Muslim)

Dari kisah ini kita mengambil pelajaran yang agung. Islam adalah agama yang penuh rahmat bagi semua makhluk. Islam tidak rela jika makhluk bernyawa disakiti dan disiksa. Dan karena itu, Islam mengantarkan pemeluknya kepada jalan kebaikan serta menanamkan benih rahmat dan kasih sayang. Apabila burung atau hewan lainnya disakiti dan disiksa  juga  merasa sakit dan menderita sebagaimana manusia.




NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Bermain dan Bersenda gurau ” dengan sub judul  “Al-Hadfu”

Surabaya, 15 Agustus 2014

Candaan Nabi

Candaan Nabi
Pada suatu hari, nabi Saw melihat Zahir bin Haraam Al-Asyja’i RA yang sedang menjual dagangannya. Rasul mendekapnya dari belakang dan Zahir tidak melihat beliau. Dia berkata, “Lepaskan aku, siapa ini?”

Zahir kemudian menoleh dan tahulah ia bahwa yang mendekapnya dari belakang adalah nabi. Zahir pun menempelkan punggungnya ke dada nabi Saw. Nabi Saw kemudian mencandainya dengan bersabda, “Siapa yang mau membeli budak?”

Zahir berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah saya tidak laku (maksudnya: engkau tidak akan mendapati orang yang membeliku). Rasul Saw kemudian bersabda, “Akan tetapi di sisi Allah kamu laku” (HR. Ahmad)

Dari kisah ini diketahui bahwa nabi Saw mengambil hati para sahabatnya melalui bercanda dengan cara yang baik. Beliau kerap menampakkan diri sebagai pribadi yang suka bercanda dan bersukaria sehingga mereka tidak menjauh dan takut kepada nabi sebagaimana masyarakat Romawi dan Persia takut kepada pemimpin mereka.




NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Bermain dan Bersenda gurau ” dengan sub judul  “Mizaahun Nabii”

Surabaya, 15 Agustus 2014


Para Pemuda yang Telanjang Dada

Para Pemuda yang Telanjang Dada
Pada suatu hari, beberapa pemuda melepas pakaian dan menjadikannya seperti tali lalu mereka saling memukul menggunakan pakaian tersebut.

Saat itu dua orang sahabat Rasul lewat. Bukannya memberi hormat, mereka justru mengolok-olok keduanya. Mereka terus bermain tanpa mempedulikan orang-orang yang lewat dan tidak menghormati mereka.

Tak lama kemudian, Rasulullah Saw berjalan melewati jalan tersebut. Tatkala para pemuda itu melihat beliau, mereka pun bubar. Rasulullah Saw pulang ke rumah dengan marah.

Beliau bersabda tentang mereka, “Maha suci Allah, mereka tidak malu kepada Allah. Mereka juga tidak menutup aurat di depan Rasul-Nya”

Ummu Aiman lalu berkata, “Mintakan ampun untuk mereka ya Rasulullah”. Ummu Aiman terus mendesak agar Rasul memintakan ampun untuk mereka, akan tetapi beliau tidak memintakan ampun untuk mereka. (HR. Ahmad dan Tabarani)



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Bermain dan Bersenda gurau ” dengan sub judul  “Al-Fatayaan Al-‘urraatu”

Surabaya, 14 Agustus 2014

Bercanda yang Diharamkan

Bercanda  yang Diharamkan
Dalam salah satu perang, kaum muslimin berkumpul dan menyalakan api. Abdullah bin Hadzafah yang merupakan pimpinan pasukan berkata, “Bukankah kalian wajib mendengar dan taat?”. Mereka menjawab, “Iya”.

Abdullah lalu memerintahkan para tentara untuk memasukkan badan mereka ke dalam api. Sebagian tentara berdiri untuk memasukkan diri mereka ke dalam api, akan tetapi sebagian yang lain mencegah. Tatkala Abdullah melihat perdebatan di antara mereka, ia berkata, “Jangan lakukan, sesungguhnya aku hanya bercanda”.

Ketika kembali dari perang, para tentara menceritakan kejadian tersebut kepada Rasul. Beliau bersabda, “Kalau ada orang yang memerintahkan kalian bermaksiat kepada Allah, janganlah kalian taati” (HR. Ibnu Majah)

Oleh karena itu, nabi Saw memperingatkan kaum muslimin agar bercanda dalam hal-hal yang halal dan tidak dibenci. Adapun canda dan senda gurau yang melanggar batas dan bermaksiat kepada Allah diharamkan untuk kaum muslimin.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Bermain dan Bersenda gurau ” dengan sub judul  “Al-Mizaah Al-Haraam”

Surabaya, 14 Agustus 2014


Adab Bermain dan Bersenda gurau

Adab Bermain dan Bersenda gurau
Islam mengajarkan untuk membiasakan diri berolahraga; karena hal itu sangat penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Islam juga memberi rambu-rambu dalam berolahraga berupa adab-adab yang seharusnya dipatuhi. 

Selain itu, Islam tidak melarang bersenda gurau, akan tetapi harus sesuai dengan adab-adab yang mulia agar bisa meraih kebahagiaan dan mengokohkan hubungan antar manusia.

Orang-orang pada zaman nabi suka bersenda gurau, padahal iman di hati mereka sebesar gunung. Mereka juga memiliki bermacam-macam jenis permainan olahraga yang bermanfaat; seperti memanah, berenang, mengendarai kuda, gulat, dan lari.

Mereka juga suka mengajari anak-anak mereka bermacam-macam jenis olahraga yang menyehatkan tubuh dan membuat otot kekar. Akan tetapi mereka menjauhi permainan dan senda gurau yang Allah benci dan membuat marah serta menyakiti orang lain.

Di antara jenis permainan dan senda gurau ada yang berbahaya dan ada yang bermanfaat. Kita diperbolehkan bermain dan bersenda gurau selama hal itu bukan perkara haram dan tidak menyakiti orang lain.

Barangsiapa  memperbagus niatnya dalam bermain dan bersendagurau, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala dan kebaikan-kebaikan.




NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Bermain dan Bersenda gurau ” dengan sub judul  “Nasiihatun ‘Indal Qobri”

 Panceng, Gresik, 11 April 2014


Qorun dan Keengganannya Menerima Nasehat

Qorun dan Keengganannya Menerima Nasehat
Qorun adalah seorang laki-laki dari kaum nabi Musa AS. Allah memberinya nikmat berupa harta yang melimpah. Akan tetapi dia tidak bersyukur kepada Allah serta menyesatkan manusia.

Tatkala kaum mukminin dari kaum Musa mengetahui bahwa banyak manusia tersesat gara-gara Qorun dan tidak ada kesyukuran dalam dirinya atas nikmat yang Allah berikan, mereka memutuskan untuk memberinya nasehat.

Mereka pun pergi menemuinya dan berkata, “Janganlah englau terlalu bangga. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”.

Akan tetapi Qorun tidak mendengarkan nasehat kaum mukminin dan terus mengingkari nikmat Allah. Dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata ilmu yang ada padaku”.

Penentangan Qorun semakin menjadi-jadi. Banyak manusia tersesat karena ulahnnya. Allah kemudian menenggelamkannya beserta hartanya dan menimbunnya dengan tanah.  Itu merupakan balasan atas keengganannya bersyukur atas nikmat yang Allah berikan dan atas keenggenannya mendengarkan nasehat kaum mukminin.



NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Memberi Nasehat ” dengan sub judul  “Qarun wan Nasiihatu”

 Panceng, Gresik, 11 April 2014


Nasehat Rasul di Samping Kuburan

Nasehat Rasul di Samping Kuburan
Nabi Saw sering melakukan ziarah kubur. Beliau juga memerintahkan para sahabat untuk melakukan ziarah kubur untuk mengambil i’tibar dan hikmah. Ketika berjalan melalui kubur, beliau bersabda, “Keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan mukminin dan muslimin. Dan sesungguhnya kami insyaAllah akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah agar kami dan kalian mendapatkan ampunan”.


Ketika  menziarahi kuburan sahabatnya; beliau mendoakan mereka, memintakan rahmat dan ampunan kepada Allah untuk mereka.


Pada suatu hari, beliau melewati kuburan. Di sana beliau mendapati seorang perempuan menangis dan berteriak di samping kuburan. Beliau bersabda kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”.


Perempuan itu tidak mengetahui bahwa yang mengatakan itu adalah Rasulullah Saw. Dia berkata, “Menjauhlah dariku, sesungguhnya kamu tidak mendapatkan musibah sebagaimana diriku”. Nabi pun berlalu dan meninggalkannya. Lalu dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya dia adalah nabi Saw”.


Perempuan itu kemudian berjalan dengan cepat untuk meminta maaf kepada nabi Saw dan berkata, “Saya tidak mengetahui bahwa yang mengatakan tadi adalah engkau”.

Nabi Saw bersabda kepadanya, “Sesungguhnya kesabaran ada pada goncangan yang pertama”. (Muttafaqun ‘Alaih)







NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Memberi Nasehat ” dengan sub judul  “Nasiihatun ‘Indal Qobri”



 Panceng, Gresik, 11 April 2014


Tuma’ninah dalam Shalat

Tuma’ninah  dalam Shalat
Seorang laki-laki arab badui memasuki masjid. Ia kemudian shalat dengan shalat yang cepat. Dia tidak tuma’ninah dalam rukuk dan sujudnya. Nabi Saw melihatnya dan bersabda kepadanya, “Shalatlah karena kamu belum shalat”.
 
Laki-laki itu kemudian mengulangi shalatnya yang kedua kali. Lalu ia menemui nabi. Nabi bersabda kepadanya, “Shalatlah karena kamu belum shalat”.


Laki-laki itu pun mengulangi lagi shalatnya yang ketiga kali. Dan nabi pun mengulangi lagi apa yang sebelumnya beliau sabdakan kepada orang arab badui itu. 


Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah saya tidak bisa shalat yang lebi baik daripada apa yang telah saya lakukan”.


Nabi Saw kemudian mengajarinya tata cara shalat dan bersabda, “Jika kamu rukuk maka rukuklah dengan tuma’ninah; jika kamu sujud, maka sujudlah dengan tuma’ninah. Lakukan sepert itu dalam seluruh shalatmu”. (Muttafaqun ‘alaih)





NB: terjemahan dari kitab silsilatul adab pada  bab “Adab dalam Memberi Nasehat ” dengan sub judul  Ash-Sholaatu Al-Muthmainnatu”

 Panceng, Gresik, 11 April 2014